Minggu, 30 September 2012

Cinta, Oh Cinta!



Handphone ku berdering. Dengan sigap kuambil handphoneku. Akupun tersenyum. Baru saja aku menulis sesuatu di PM BBM, dia langsung saja mengirimiku pesan. Alangkah perhatiannya dia, batinku. Entah mengapa, setiap kali aku menulis PM, ia selalu melakukan hal itu. Hmm…. Kalau seperti ini terus, aku bisa ge-er dibuatnya.
Namanya Ahmad. Aku sudah lama mengenalnya lewat jejaring sosial facebook. Kami jadi akrab karena saat itu aku masih aktif di facebook untuk nge-like status yang bersliweran di beranda facebook, yang ternyata, aku lumayan sering nge-like statusnya. Makin lama kami makin akrab, karena ternyata kami menyukai klub sepak bola yang sama. Dan finally, kami bertukar nomor handphone.
Kak Ahmad – aku memanggilnya kak karena ia empat tahun lebih tua dariku – sempat menyukaiku –  dalam tanda kutip – , namun aku tak bisa menerimanya karena saat itu aku sudah memiliki seorang kekasih. Dan makin lama kami makin jarang berkomunikasi, apalagi sejak kak Ahmad memiliki pacar. Kulihat, kak Ahmad dan kekasihnya sempat putus nyambung berkali-kali. Aku pun sempat ngobrol dengan pacarnya itu, dan mendoakan agar hubungan mereka selalu langgeng, meski dalam hati aku iri juga, karena akupun, lambat laun mulai menyukai kak Ahmad. Hubunganku dengan Yudi – pacarku – pun, makin lama makin berantakan, dan kami pun putus, namun bukan karena kak Ahmad, tapi karena ketidakcocokan antara kami yang makin mencolok.
Dan kini, ia – kak Ahmad – hadir kembali dalam hidupku. Tepatnya beberapa hari yang lalu, saat aku mengerjakan tugas kuliah sambil iseng online facebook. Ia menyapaku, lalu kami ngobrol dan akhirnya bertukar pin BB.
Aku sangat senang ketika ia memperhatikan PM ku. Siapa sih, cewek yang ga suka diberi perhatian? Apalagi dari seseorang yang pernah ia sukai.
Namun, aku takut. Aku takut juga, kalau-kalau ternyata ini bukanlah sebuah ‘perhatian’ yang ‘khusus’ diberikan padaku. Karena, ada juga lelaki yang bisa perhatian pada setiap wanita yang ia temui dan membuat wanita itu seolah-olah merasa istimewa karena perhatiaan yang ia dapatkan.
Lalu ku check facebooknya. Kulihat status hubungannya : Lajang. Itu berarti, masih ada harapan untukku. Boleh kan, aku sedikit berharap? Ia begitu perhatian padaku. Bahkan beberapa kali menyanjungku. Juga memberikan emoticon-emoticon semacam kiss dan hug, yang bagiku, itu adalah hal yang spesial.
---------------------------------------------------------------
BBM-an
Ahmad                        :           Pagi, dek..
Aku                 :           Pagi juga kakak :)
Ahmad                        :           Lagi apa?
Aku                 :           Baru aja selesai bantuin mama masak… kalo kakak? Ga kerja?
Ahmad                        :           Kakak masuk sore, dek. Pengen bolos sih, sebenernya.
Aku                 :           Kok bolos? Kakak lagi sakit?
Ahmad                        :           Nggak kok. Nanti sore kan ada pertandingan sepak bola. Pengen ikut nonbar.
Aku                 :           Kirain mau malem mingguan ama pacarnya :D
Ahmad                        :           Pacar kakak di semarang, dek
Aku                 :           Wow…. LDR dong… Masih sama yang dulu itu?
Ahmad                        :           Iya
Aku                 :           Wah…. Hebat ya…. Langgeng :)
Ahmad                        :           :)
Aku                 :           Moga langgeng terus ya kak :)
Ahmad                        :           Amiiiin. Makasih ya dek
Aku                 :           Sama-sama kak

----------------------------------------------------------------------
Jleb! Hatiku serasa teriris-iris. Kupancing ia dengan sebuah statement, namun ternyata kenyataannya sungguh menyaitkan. Ia masih bersama pacarnya yang dulu itu. Padahal status hubunngannya di facebook jelas-jelas lajang, namun ternyata….
Aku menangis dalam hati. Sampai berapa kali aku harus bertepuk tangan seperti ini?
Dua tahun yang lalu, aku sempat jatuh hati pada kakak kelasku. Awalnya ia baik padaku. Tapi entah mengapa, entah karena ia terlalu sibuk berkecimpung di organisasi atau memang sengaja, ia berangsur-angsur tak pernah membalas sms-ku. Akupun, mundur. Diteruskan pun, perjuanganku akan sia-sia saja : tak pernah ada tanggapan.
Lalu setahun yang lalu, aku juga sempat berteman dengan seorang mahasiswa di salah satu universitas di Jakarta. Orangnya tampan, pandai, dan auranya menarik. Lagi-lagi, aku jatuh hati. Namun pada akhirnya sama : bertepuk sebelah tangan. Kami pun lost contact.
Dan yang ketiga, adalah dengan kak Ahmad ini. Ya! Baru saja, hatiku hancur olehnya.
Kuambil foto Rey, yang masih tersimpan dalam bingkai foto yang terbuat dari kayu, yang masih kupajang diatas meja belajarku. Kupeluk fotonya, sambil menangis.
“Sejak kamu pergi, aku selalu terjatuh, Rey. Aku udah nyoba buat bangkit, tapi gak bisa,” kataku sambil menatap foto Rey.
Namun – foto – Rey hanya tersenyum dan membisu. Senyum yang sangat kurindukan. Senyumnya yang abadi. Ya! Rey pergi untuk selama-lamanya tiga setengah tahun yang lalu akibat kecelakaan tabrak lari. Meski aku hanya berpacaran dengan Rey selama enam bulan, namun bagiku ia adalah pria terbaik yang pernah kutemui. Rey adalah sosok yang membuatku nyaman, setelah aku putus dengan Yudi. Senyumnya, tawanya, pelukannya yang hangat, membuatku ingin selalu didekatnya. Bagiku, ia lebih dari sekedar pacar. Ia adalah pacar, sahabat, kakak yang baik, yang selalu melindungiku dan tak pernah membiarkan setetes air mataku jatuh.
Aku berbaring di kasur sambil memeluk foto Rey, dan memutar lagu yang sejak tiga setengah tahun belakangan ini menjadi lagu pengantar tidur untukku.

“Kehilangan dirimu
Menyakitkan nurani
Separuh nyawa terbawa
Menyisakan perih di hatiku

Baiknya semua kenangan yang teridah
Tak ku balut dengan tangis
Baiknya setiap kerinduan yang merajam
Tak kuratapi penuh penyesalan

Ku hanya terus berharap
Ini bukan kenyataan
Kau pergi tinggalkan dunia fana
Akhiri kisah asmara kita berdua

Baiknya semua kenangan yang terindah
Tak ku balut dengan tangis
Baiknya ku lepas kan
Sgala kepedihan tuk merelakan mu

Benarkah semua ini terjadi
Betapa ku mencintai dirimu
Ku tak kuasa menahan kesedihan
Yang begitu dalam”

[Ada Band – Baiknya]

Air mataku semakin deras mengalir. Aku tak tahu, sudah berapa lama aku terlarut dalam panggung sandiwara dunia ini. Kupejamkan mata dan kurapatkan pelukanku pada foto Rey. Sekilas, aku merasakan kehadiran Rey, disampingku.
“Jangan nangis dong, honey…. Aku gak bisa lagi mengusap air matamu,” bisik Rey.
“Rey?”
“Iya?”
“Jangan tinggalin aku,” isakku.
Rey terdiam. Lalu menghilang.
“Reeeeeeeeyyyyy!!!!!!!!!” teriakku. Akupun terbangun, dangan masih memeluk foto Rey. Kukembalikan foto Rey ke tempatnya semula, dan aku tersentak kaget ketika aku menemukan setangkai bunga mawar merah dan secarik kertas bertuliskan:

Jangan menangis lagi…
Aku, selalu mencintaimu.
-Rey-

Aku juga selalu mencintaimu, Rey, kataku dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar