Handphone
ku berdering. Dengan sigap kuambil handphoneku. Akupun tersenyum. Baru saja aku
menulis sesuatu di PM BBM, dia langsung saja mengirimiku pesan. Alangkah perhatiannya dia, batinku. Entah
mengapa, setiap kali aku menulis PM, ia selalu melakukan hal itu. Hmm…. Kalau seperti
ini terus, aku bisa ge-er dibuatnya.
Namanya
Ahmad. Aku sudah lama mengenalnya lewat jejaring sosial facebook. Kami jadi
akrab karena saat itu aku masih aktif di facebook untuk nge-like status yang bersliweran di beranda
facebook, yang ternyata, aku lumayan sering nge-like statusnya. Makin lama kami makin akrab, karena ternyata kami
menyukai klub sepak bola yang sama. Dan finally, kami bertukar nomor handphone.
Kak
Ahmad – aku memanggilnya kak karena ia empat tahun lebih tua dariku – sempat menyukaiku
– dalam tanda kutip – , namun aku tak
bisa menerimanya karena saat itu aku sudah memiliki seorang kekasih. Dan makin
lama kami makin jarang berkomunikasi, apalagi sejak kak Ahmad memiliki pacar. Kulihat,
kak Ahmad dan kekasihnya sempat putus nyambung berkali-kali. Aku pun sempat
ngobrol dengan pacarnya itu, dan mendoakan agar hubungan mereka selalu
langgeng, meski dalam hati aku iri juga, karena akupun, lambat laun mulai
menyukai kak Ahmad. Hubunganku dengan Yudi – pacarku – pun, makin lama makin
berantakan, dan kami pun putus, namun bukan karena kak Ahmad, tapi karena
ketidakcocokan antara kami yang makin mencolok.
Dan
kini, ia – kak Ahmad – hadir kembali dalam hidupku. Tepatnya beberapa hari yang
lalu, saat aku mengerjakan tugas kuliah sambil iseng online facebook. Ia menyapaku,
lalu kami ngobrol dan akhirnya bertukar pin BB.
Aku
sangat senang ketika ia memperhatikan PM ku. Siapa sih, cewek yang ga suka
diberi perhatian? Apalagi dari seseorang yang pernah ia sukai.
Namun,
aku takut. Aku takut juga, kalau-kalau ternyata ini bukanlah sebuah ‘perhatian’
yang ‘khusus’ diberikan padaku. Karena, ada juga lelaki yang bisa perhatian
pada setiap wanita yang ia temui dan membuat wanita itu seolah-olah merasa
istimewa karena perhatiaan yang ia dapatkan.
Lalu
ku check facebooknya. Kulihat status
hubungannya : Lajang. Itu berarti, masih ada harapan untukku. Boleh kan, aku
sedikit berharap? Ia begitu perhatian padaku. Bahkan beberapa kali
menyanjungku. Juga memberikan emoticon-emoticon semacam kiss dan hug, yang
bagiku, itu adalah hal yang spesial.
---------------------------------------------------------------
BBM-an
Ahmad : Pagi, dek..
Aku : Pagi juga kakak :)
Ahmad : Lagi apa?
Aku : Baru aja selesai bantuin mama masak…
kalo kakak? Ga kerja?
Ahmad : Kakak masuk sore, dek. Pengen bolos
sih, sebenernya.
Aku : Kok bolos? Kakak lagi sakit?
Ahmad : Nggak kok. Nanti sore kan ada
pertandingan sepak bola. Pengen ikut nonbar.
Aku : Kirain mau malem mingguan ama
pacarnya :D
Ahmad : Pacar kakak di semarang, dek
Aku : Wow…. LDR dong… Masih sama yang dulu
itu?
Ahmad : Iya
Aku : Wah…. Hebat ya…. Langgeng :)
Ahmad : :)
Aku : Moga langgeng terus ya kak :)
Ahmad : Amiiiin. Makasih ya dek
Aku : Sama-sama kak
----------------------------------------------------------------------
Jleb!
Hatiku serasa teriris-iris. Kupancing ia dengan sebuah statement, namun
ternyata kenyataannya sungguh menyaitkan. Ia masih bersama pacarnya yang dulu
itu. Padahal status hubunngannya di facebook jelas-jelas lajang, namun ternyata….
Aku
menangis dalam hati. Sampai berapa kali aku harus bertepuk tangan seperti ini?
Dua
tahun yang lalu, aku sempat jatuh hati pada kakak kelasku. Awalnya ia baik
padaku. Tapi entah mengapa, entah karena ia terlalu sibuk berkecimpung di
organisasi atau memang sengaja, ia berangsur-angsur tak pernah membalas sms-ku.
Akupun, mundur. Diteruskan pun, perjuanganku akan sia-sia saja : tak pernah ada
tanggapan.
Lalu
setahun yang lalu, aku juga sempat berteman dengan seorang mahasiswa di salah
satu universitas di Jakarta. Orangnya tampan, pandai, dan auranya menarik. Lagi-lagi,
aku jatuh hati. Namun pada akhirnya sama : bertepuk sebelah tangan. Kami pun lost contact.
Dan
yang ketiga, adalah dengan kak Ahmad ini. Ya! Baru saja, hatiku hancur olehnya.
Kuambil
foto Rey, yang masih tersimpan dalam bingkai foto yang terbuat dari kayu, yang
masih kupajang diatas meja belajarku. Kupeluk fotonya, sambil menangis.
“Sejak
kamu pergi, aku selalu terjatuh, Rey. Aku udah nyoba buat bangkit, tapi gak
bisa,” kataku sambil menatap foto Rey.
Namun
– foto – Rey hanya tersenyum dan membisu. Senyum yang sangat kurindukan. Senyumnya
yang abadi. Ya! Rey pergi untuk selama-lamanya tiga setengah tahun yang lalu
akibat kecelakaan tabrak lari. Meski aku hanya berpacaran dengan Rey selama
enam bulan, namun bagiku ia adalah pria terbaik yang pernah kutemui. Rey adalah
sosok yang membuatku nyaman, setelah aku putus dengan Yudi. Senyumnya, tawanya,
pelukannya yang hangat, membuatku ingin selalu didekatnya. Bagiku, ia lebih
dari sekedar pacar. Ia adalah pacar, sahabat, kakak yang baik, yang selalu
melindungiku dan tak pernah membiarkan setetes air mataku jatuh.
Aku
berbaring di kasur sambil memeluk foto Rey, dan memutar lagu yang sejak tiga
setengah tahun belakangan ini menjadi lagu pengantar tidur untukku.
“Kehilangan
dirimu
Menyakitkan nurani
Separuh nyawa terbawa
Menyisakan perih di hatiku
Baiknya semua kenangan yang teridah
Tak ku balut dengan tangis
Baiknya setiap kerinduan yang merajam
Tak kuratapi penuh penyesalan
Ku hanya terus berharap
Ini bukan kenyataan
Kau pergi tinggalkan dunia fana
Akhiri kisah asmara kita berdua
Baiknya semua kenangan yang terindah
Tak ku balut dengan tangis
Baiknya ku lepas kan
Sgala kepedihan tuk merelakan mu
Benarkah semua ini terjadi
Betapa ku mencintai dirimu
Ku tak kuasa menahan kesedihan
Yang begitu dalam”
Menyakitkan nurani
Separuh nyawa terbawa
Menyisakan perih di hatiku
Baiknya semua kenangan yang teridah
Tak ku balut dengan tangis
Baiknya setiap kerinduan yang merajam
Tak kuratapi penuh penyesalan
Ku hanya terus berharap
Ini bukan kenyataan
Kau pergi tinggalkan dunia fana
Akhiri kisah asmara kita berdua
Baiknya semua kenangan yang terindah
Tak ku balut dengan tangis
Baiknya ku lepas kan
Sgala kepedihan tuk merelakan mu
Benarkah semua ini terjadi
Betapa ku mencintai dirimu
Ku tak kuasa menahan kesedihan
Yang begitu dalam”
[Ada Band – Baiknya]
Air
mataku semakin deras mengalir. Aku tak tahu, sudah berapa lama aku terlarut
dalam panggung sandiwara dunia ini. Kupejamkan mata dan kurapatkan pelukanku
pada foto Rey. Sekilas, aku merasakan kehadiran Rey, disampingku.
“Jangan
nangis dong, honey…. Aku gak bisa lagi mengusap air matamu,” bisik Rey.
“Rey?”
“Iya?”
“Jangan
tinggalin aku,” isakku.
Rey
terdiam. Lalu menghilang.
“Reeeeeeeeyyyyy!!!!!!!!!”
teriakku. Akupun terbangun, dangan masih memeluk foto Rey. Kukembalikan foto
Rey ke tempatnya semula, dan aku tersentak kaget ketika aku menemukan setangkai
bunga mawar merah dan secarik kertas bertuliskan:
Jangan menangis lagi…
Aku, selalu mencintaimu.
-Rey-
Aku juga selalu mencintaimu, Rey,
kataku dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar