Jumat, 08 November 2013

Forever


Danny mengusap rambutku dengan lembut, dan aku tetap diam tak bergeming.

“Ayo dong jangan ngambek… Kita ke McD yuk, beli happy meal ama es krim,” bujuk Danny lembut.

“….” Aku hanya diam dan memalingkan muka.

“Hunny….” Danny menggenggam tanganku erat.

Aku menoleh kearahnya – wajah Danny terlihat antara bingung dan tak merasa bersalah. Huh menyebalkan! Bisa-bisanya dia lupa!

"WAR(ia)ZONE"

Oleh: Putri Karyani, Fikri Al Ghufron, dan Dwiky Chandra Anggara.
13838706651009989337
Wariazone

Mungkin lebih tepat jika film dokumenter ini diberi judul “War Zone” , karena terlalu banyak “perang” dan konflik yang ada di dalamnya. Konflik batin para waria, tentang gender wanita yang terperangkap dalam sex seorang laki-laki yang pada akhirnya memilih wanita sebagai identitas yang digunakan dan bahkan terkadang melakukan oprasi terhadap identitas sex laki –laki mereka (transgender). Konflik antara waria dengan lingkungan sosialnya, di mana mereka terasingkan dan ditolak oleh masyarakat. Serta perang mereka melawan kerasnya dunia kerja yang terlihat dengan sangat jelas membatasi wilayah mereka untuk bekerja dan berkarya, contoh,  mereka sering hanya berkerja sebagai pekerja salon, pengamen/penghibur atau PSK dan tidak bisa jauh dari ketiga hal itu dan bukan menjadi pegawai suatu perusahaan.  Mereka merupakan suatu eksistensi menarik sekaligus memprihatinkan untuk diamati karena banyak isu – isu negative seperti transgender, diskriminasi, per-PSK-an yang cenderung memiliki arti buruk di mata masyarakat.