Jumat, 08 November 2013

Forever

…

Danny mengusap rambutku dengan lembut, dan aku tetap diam tak bergeming.

“Ayo dong jangan ngambek… Kita ke McD yuk, beli happy meal ama es krim,” bujuk Danny lembut.

“….” Aku hanya diam dan memalingkan muka.

“Hunny….” Danny menggenggam tanganku erat.

Aku menoleh kearahnya – wajah Danny terlihat antara bingung dan tak merasa bersalah. Huh menyebalkan! Bisa-bisanya dia lupa!


“Hahahaha…. Iya iya deh…. Aku cuma bercanda kok Hun,” jawabku sambil tertawa – tawa yang dipaksakan. Capek juga karena Danny ngga nyadar-nyadar juga. “Ayo kita ke McD, katanya mau beli happy meal ama es krim?” kataku mengedipkan mata ke arah Danny, lalu beranjak dari tempat dudukku.

“Hun…. Jangan nyembunyiin sesuatu dari aku…. Ayo ngomong, kamu kenapa,” kata Danny sambil menarik tanganku.

“Ummm….,” aku manyun sambil pura-pura berpikir. “Iya deh…. Tapi jawab dulu pertanyaanku,”  kataku dengan nada jahil.

“Iyaaa deh…. Shit happen nih kayaknya,” Danny menggaruk-garuk kepalanya walau ia tak merasa gatal.

“Sekarang hari apa?”

“Sabtu.”

“Yaps,”

“Sabtu berarti Hunny ga ada jadwal kerja,”

“Lainnya?”

“Hmmm….”

“Ini tanggal berapa?”

“12?”

“Terus?”

“Nyerah deh….”

“Yaudah, gak penting kok hun. Baru juga satu tahun,” kataku sambil menyilangkan tangan, pura-pura ngambek.

“Udah setahun ya? Penting kok buat aku,” kata Danny sambil mencupit pipiku. “Maaf ya Hun, aku lupa,” kata Danny dengan wajah tulus meminta maaf.

“Baru juga satu tahun, Hun,” kataku sambil menjulurkan lidah, seperti anak kecil. “Aku pengennya lebih. Even forever.”

“Aku pengen forever, Hunny,” kata Danny sambil tersenyum.

“Aaaamiiiin…. Kita berjuang sama-sama ya Hun? It won’t be easy. But I’m sure, we can….” Kataku sambil mengangkat jari kelingking.

“Iya sayangku….” Danny mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingkingku. “I love you,” Danny berbisik mesra di telingaku.

“….” Aku tersipu. “Love you too my sweetheart,”

“Jadi?”

“Jadi apa?”

“Jadi ke McD ngga?” kata Danny dengan nada menggoda.

“Jadiiii…. Tapi aku ga pengen happy meal….”

“Katanya pengen dapet mainan?”

“Ogah…. Pengen pesen Big Mac aja, hehehehe….”

“Yakin?” Danny kaget.

“Iyaaaa,” kataku sambil tertawa.

“Yaudah ayo…. Mama mana? Pamit mama dulu,”

“Tuuuh kan Hunny lupa….” Kataku sambil mencubit perut Danny. “Aku kan nge-kost Hun….,”

“Ya maksudnya Mama Kost,” gantian Danny yang menjahiliku.

“Iye deh iyeee…. Bentar,” aku masuk ke dalam rumah, mencari Ibu (Kost). Ibu ternyata sedang asyik 
merenda ruang keluarga. “Ibu, Chacha pamit, mau keluar bentar ama Danny,” kataku sambil mencium 
tangan Ibu.

“Iya, hati-hati ya,” jawab Ibu.

“Danny juga mau pamit, Bu….”

Ibu segera beranjak dari kursi, dan kami berdua berjalan menuju teras.

“Bu, Danny mau ngajak Chacha keluar bentar ya,” kata Danny sambil mencium tangan Ibu.

“Agak lama juga gapapa kok,” kata Ibu sambil mengedipkan mata ke arahku.

“Hehehehe…. Ibu bisa aja,” kataku sambil cengengesan.

Setelah pamit, kami pun berangkat.

***

Di tengah perjalanan….

“Jadi kita mau kemana Hun?” tanya Danny.

“Terserah, yang penting ama Hunny,” kataku manja.

“Cieeee…. Balik ke kosan kamu aja yuk Hun, gajadi nge-date, lain kali aja.”

“Aaaaahh…. Gamauuu,” kataku sambil cemberut dan menyilangkan tangan.

Danny mengarahkan spionnya sedikit ke atas agar dapat melihat wajahku. “Jangan cemberut dong, kan aku cuma bercanda,” kata danny sambil mengusap pipiku dengan tangan kirinya, lalu menarik tanganku, agar berpegangan erat di pinggangnya.

Dasar Danny…. Jahilnya minta ampun! Kataku dalam hati. But, I love you. :*

13837355291585284114
picture taken from : http://www.swoonreads.com/blog/together-forever

Tidak ada komentar:

Posting Komentar