Jumat, 08 November 2013

"WAR(ia)ZONE"

Oleh: Putri Karyani, Fikri Al Ghufron, dan Dwiky Chandra Anggara.
13838706651009989337
Wariazone

Mungkin lebih tepat jika film dokumenter ini diberi judul “War Zone” , karena terlalu banyak “perang” dan konflik yang ada di dalamnya. Konflik batin para waria, tentang gender wanita yang terperangkap dalam sex seorang laki-laki yang pada akhirnya memilih wanita sebagai identitas yang digunakan dan bahkan terkadang melakukan oprasi terhadap identitas sex laki –laki mereka (transgender). Konflik antara waria dengan lingkungan sosialnya, di mana mereka terasingkan dan ditolak oleh masyarakat. Serta perang mereka melawan kerasnya dunia kerja yang terlihat dengan sangat jelas membatasi wilayah mereka untuk bekerja dan berkarya, contoh,  mereka sering hanya berkerja sebagai pekerja salon, pengamen/penghibur atau PSK dan tidak bisa jauh dari ketiga hal itu dan bukan menjadi pegawai suatu perusahaan.  Mereka merupakan suatu eksistensi menarik sekaligus memprihatinkan untuk diamati karena banyak isu – isu negative seperti transgender, diskriminasi, per-PSK-an yang cenderung memiliki arti buruk di mata masyarakat.

   
Isu transgender sendiri, merupakan sebuah hal yang sangat unik, karena transgender merupakan bagian dari kebudayaan yang sudah lama melekat dalam tradisi dan kesenian di Indonesia. Sebagai contoh adalah bissu yang menempati posisi khusus sebagai penghubung antara makhluk dan Tuhan pada masyarakat Sulawesi dan kesenian ludruk di Jawa Timur yang identik “waria” dalam pementasannya. Beberapa tarian dan kesenian di Indonesia dulunya juga hampir semua diperankan oleh laki-laki, karena, adalah hal yang tabu bagi seorang perempuan ‘menampakkan’ diri di depan umum. Maka, banyak kesenian yang menggunakan laki-laki yang didandani seperti perempuan,contohnya kesenian Arje di Bali, Tari Gandrung, Tayub, dll. Jadi, meski perannya wanita, namun tetap diperankan oleh laki-laki. Namun, ha ini berangsur-angsur memudar seiring perkembangan jaman, karena adanya modernisasi.

Hal lain yang menarik pada film ini adalah diskriminasi terhadap para waria di negeri kita. Masyarakat kita menganggap bahwa waria adalah penyakit masyarakat yang harus dibasmi layaknya hama. Di film ini juga ditunjukkan kesaksian dari beberapa waria yang diperlakukan mirip hewan. Diskriminasi-diskriminasi seperti inilah yang membuat hidup mereka penuh dengan resiko, bukan hanya itu, mereka sendiri bahkan hampir seluruh waria tidak mempunyai KTP, hal yang sangat simpel tetapi menggambarkan banyak hal. Pendapat kami tentang film ini yang menggambarkan curahan hati para waria sudah bagus dan kami ingin memaparkan pendapat kami tentang diskriminasi ini. Bagaimanapun kita melihat mereka, dengan cara apapun kita melihat mereka, mereka tetap-lah manusia, mereka membutuhkan yang mungkin mereka belum rasakan, yaitu HAM. Para aktivis-aktivis yang memperjuangkan waria juga meneriakan hal yang sama tetapi belum digubris. Paling tidak, menurut kami, berikanlah mereka perlindungan hukum dan HAM, bahkan yang lebih miris adalah bahwa mereka tidak mendapatkan tempat di pemakaman umum sehingga di film WARIA ZONE terdapat kuburan khusus untuk orang-orang tersebut.

Dan sebagaimana yang kita tahu, waria – di Indonesia – merupakan kaum minoritas yang sering dianggap remeh, bahkan dikucilkan oleh masyarakat. Dinamika kehidupan waria tergolong sangat berat, karena mereka harus bertahan hidup ditengah diskriminasi masyarakat yang sulit untuk menerima kehadiran dan keadaan mereka. Mereka sering kehilangan hak-hak mereka sebagai manusia, keadilan dan kejelasan hukum di Indonesia untuk waria juga (hampir) tidak ada. Itulah mengapa, rata-rata pekerjaan waria hanyalah sebagai hairstylist di salon, sebagai penari, atau PSK (Pekerja Seks Komersial). Penyebabnya ya itu tadi, karena masyarakat tidak bisa menerima kehadiran mereka. Namun dari sedikit pilihan yang mereka miliki, banyak yang pada akhirnya memilih menjadi PSK, karena pekerjaan ini mungkin dirasa paling mudah dan menghasilkan lebih banyak uang dari pada pilihan – pilihan pekerjaan lainnya.

Uraian – uraian diatas memang bisa dikatakan sisi negative dari kehidupan para waria di beberapa kota besar di Indonesia. Namun bukan berarti mereka tidak mempunyai sisi positif hidup untuk dijalani. Di beberapa tempat, mereka diterima dan diperlakukan layaknya manusia normal meskipun tempat – tempat seperti itu sulit ditemukan di Indonesia. Terlebih lagi ketika mereka menemukan satu sama lain, oleh karena itulah kira lebih sering melihat waria bergerombol dan jarang sendirian. Selain sebagai “tembok” bagi diskriminasi yang mereka terima, kelompok juga merupakan tempat dimana mereka benar – benar Mari kita membuka mata kita lebar-lebar, dan melihat segala sesuatunya dari berbagai kacamata, sisi dan sudut pandang yang berbeda. Wariazone, yang menunjukkan romantika dan dinamika kehidupan para waria, manis pahit nya kehidupan yang mereka jalani. Mereka berhak untuk mendapatkan hak-hak yang seharusnya mereka peroleh sebagai mahluk Tuhan dan sebagai warga negara. Cap negatif yang diberikan masyarakat pada waria juga bisa saja berangsur-angsur hilang jika kita berhenti mendiskriminasi dan mengucilkan mereka, hidup berdampingan, rukun, dan damai, sehingga terciptalah sebuah kehidupan harmonis dan damai dari “perang” yang selama ini mereka telah jalani. Semoga. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar