Judul
tersebut saya ambil dari tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Pengantar
Ilmu Budaya seminggu yang lalu. Lalu mengapa saya baru mengerjakannya sekarang?
Bukan karena saya malas, tapi karena saya sendiri baru mendapatkan fotokopian “Kebudayaan Indonesia : Pandangan 1991”
itu kemarin (Senin, 24 September 2012). ‘Keterlambatan’ ini disebabkan
karena sistem distribusi yang lambat dan
sebenarnya kurang efektif – menurut saya. Saya pun tidak sepenuhnya menyalahkan
oknum yang terkait dalam pendistribusian kopian ‘materi
perkuliahan’ tersebut. Karena saya sendiri, pada hari Senin cukup sibuk – dan
lelah – oleh jadwal kuliah sedari pukul 08.00 s.d 17.40, ditambah lagi jadwal
UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) bela diri yang saya ikuti mulai dari pukul 06.00
s.d 22.00. Sungguh! Hari yang sangat melelahkan.
Kembali
ke topik pembicaraan, malam ini saya membutuhkan waktu berjam-jam untuk
memahami (kopian) tulisan Tulisan Nirwan Dewanto, yaitu “Kebudayaan Indonesia :
Pandangan 1991”. Jujur saja, tulisan Nirwan Dewanto “terlalu berat” untuk saya pahami. Lebih mudah untuk memahami novel The Da Vinci Code karangan Dan Brown
yang (kata) sebagian besar orang bilang bahwa novel tersebut adalah ‘bacaan berat’, daripada tulisan Nirwan
Dewanto tersebut. Entah karena saya yang terlalu bodoh, atau mungkin karena
memang tulisan tersebut yang sulit dipahami, yang jelas, saya membutuhkan waktu
berjam-jam untuk membaca fotokopian – entah itu berasal dari buku atau apa,
saya juga kurang begitu tahu – itu, bahkan saya telah berulang-ulang
membacanya. Bahkan sampai detik ini pun, hanya secuil yang bisa saya cerna
dari tulisan tersebut. Saya juga menandai beberapa kalimat yang menurut saya
penting dengan high lighter – atau
orang biasa menyebutnya dengan ‘Stabilo’,
sebuah kesalahan fatal karena ‘Stabilo’
merupakan sebuah merk, bukan nama dari benda tersebut.
Pertama,
yang saya tangkap dari tulisan tersebut adalah, paparan mengenai ‘lahirnya’ budaya di Indonesia, serta
tokoh-tokoh yang terlibat didalamnya, yang kenyataannya ujung tombak kebudayaan
bukanlah berasal dari kaum budayawan.
“Kebudayaan melakukan banyak penyimpangan
dari desain besar yang ingin mengendalikannya. Sudah saatnya menganggap selesai perdebatan-perdebatan tentang
orientasi utama dan bentuk terakhir dari kebudayaan Indonesia. Setiap orang
secara potensial adalah pencipta kebudayaan.”
Saya
sangat setuju dengan pernyataan tersebut, karena memang, budaya tidak selalu
berwujud konkret, namun juga yang tak berwujud atau abstrak. Budaya bukan hanya
melulu tentang seni, namun juga segala macam aktivitas yang dilaksanakan suatu
kelompok, misalnya : budaya menjaga kebersihan lingkungan, budaya mengosok gigi
setelah sarapan dan sebelum tidur, dll. Dan setiap orang, memang bisa secara
potensial menjadi pencipta suatu budaya, terlebih jika orang tersebut memiliki
posisi yang berpengaruh dalam suatu kelompok atau masyarakat.
Selanjutnya,
adalah modernisasi kebudayaan dalam era globalisasi. “Menjadi modern, mungkin mula-mula adalah hukuman, baru kemudian menjadi
kesadaran dan tindakan.” Menurut saya, menjadi modern bukanlah sebuah
hukuman, melainkan sebuah keharusan, karena modernisasi membawa banyak manfaat
dalam kehidupan manusia. Meski ada pula sisi negatifnya, namun perlu kita sadari bahwa segala sesuatu pasti memiliki
resiko. Ada positif, pasti ada pula negatifnya. Bisa kita lihat bagaimana
dampak dari globalisasi – yang merupakan bagian dari modernisasi – saat ini.
Globalisasi banyak sekali memberikan kemudahan dalam kehidupan kita. Salah satu
contohnya adalah kita dapat menjelajah berbagai sudut dunia dalam waktu singkat
dengan adanya internet. Sedangkan dampak negatif, sebetulnya dikendalikan oleh
masing-masing diri dari individu, bagaimana masing-masing individu bisa memanage dirinya untuk tidak terjebak
dalam kenegatifan sebagai dampak dari
globlaisasi.
“Melalui proses belajar, bangsa Indonesia
telah menghasilkan karya besar, yakni keberhasilan mengatasi kesempitan mental
primordial, daerah, dan sebagainya, yang memuncak pada terwujudnya
negara-bangsa. Proses belajar itu tak lain adalah nasionalisme. Tetapi apakah
yang dikenali dan dilakoni sebagai globalisasi
yang menantang nasionalisme itu?” Globaslisasi menantang nasionalisme?
Saya rasa tidak. Sebaliknya dengan adanya globalisasi, seharusnya bisa menjadi
sebuah media untuk memperkuat nasionalisme kita. Kita bisa berteman dengan
siapa saja dan dimana saja berkat globalisasi, kan? Maka, kita juga bisa
menunjukkan kepada dunia, seperti apa budaya negara kita. Saya memiliki banyak
teman yang berasal dari luar negeri – dan mungkin anda memiliki lebih banyak
teman diluar negeri daripada saya – dan mereka sangat antusias sekali ketika
bertanya tentang kebudayaan yang ada di negara kita yang tercinta ini,
Indonesia, dan itu merupakan sebuah kebanggaan tersendiri karena bangsa lain
sangat mengagumi budaya kita. Kita juga bisa mengupload gambar atau video menerik tentang kesenian daerah kita,
misalnya, dan tentu itu merupakan sebuah hal unik yang dapat menarik perhatian
bangsa lain. Jangan lupa juga, banyak sekali bangsa lain yang ingin belajar
tentang kebudayaan bangsa kita. Kita mestinya bangga pada hal tersebut, bukan?
Tentu saja. Fenomena lain yang bisa kita lihat dengan adanya dampak globalisasi
dari tulisan Kebudayaan Indonesia :
Pandangan 1991 adalah pada pernyataan berikut, ”Globalisasi pada dasarnya memperjelas batas sebuah kelompok masyarakat
pencipta budaya dan mempertinggi syarat penciptaan mereka, namun pada saat yang
sama juga mengikis peluang mereka untuk diakui lingkungan terdekat.” Hal
tersebut juga benar adanya. Walau membawa banyak manfaat, globalisasi juga
dapat menjauhkan kita dari lingkungan
terdekat kita. Bisa kita lihat, saat ini para remaja – bukan hanya remaja saja
sebenarnya – lebih sibuk dengan jejaring sosial – contoh sederhana saja : Facebook – di dunia maya, daripada
bersosialisasi dengan orang lain. Lalu ini salah siapa? Salah masing-masing
dari kita yang tidak dapat memanage
dan membatasi diri kita terhadap pemanfaatan media sosial yang kurang mendidik
– seperti yang telah saya katakan sebelumnya.
Terakhir,
saya kurang setuju juga dengan kesan (yang terkesan) negatif terhadap ilmu sains. Pernyataan “…., kehadiran sains tidak mendapatkan perhatian
dan pengakuan kaum budayawan” dan “Sains
tidak lagi mencari kebenaran: ia sendiri menjadi kekuasaan.” Serta
pernyataan berikut, “Sains berpeluang
besar memonopoli kebenaran dalam masyarakat, menjadi semacam ideologi yang
menekan kebudayaan alternatif.” Pernyataan-pernyataan tersebut seakan-akan
ilmu sains di-Judge negatif disini.
Apakah kita tidak menyadari bahwa sebenarnya ilmu budaya sendiri adalah dasar
dari segala ilmu? Budaya – termasuk bahasa – sangat memilikiperan penting dalam
hal ini. Bayangkan, tanpa adanya bahasa, bagaimana kita bisa mengolah berbagai
macam ilmu pengetahuan? Tentu tanpa adanya bahasa, kita menjadi bisu dan buta.
Jadi, mengapa sains di-judge seperti
itu? Tiada yang menekan maupun ditekan dalam hal ini. Justru harusnya hal
semacam ini dapat melebarkan peran budaya, sehingga bisa menjadi ilmu sains yang berbudaya. Setiap
cabang ilmu pengetahuan saling terkait dan saling membutuhkan satu sama lain,
dan tentunya memiliki peran tersendiri dalam kehidupan manusia, bahkan dalam
hal terkecil sekalipun. Jadi, sebaiknya kita bisa mengambil sisi positif dari
itu semua.
Saya
rasa cukup sekian, mengingat saya hanya bisa mencerna sebagian kecil dari tulisan Kebudayaan Indonesia : Pandangan 1991 yang notabene merupakan “bacaan berat” bagi saya. Mohon maaf
apabila ada salah kata, ataupun ada yang kurang berkenan, sebagai pemula – dan
tidak cukup pandai – tentu saya masih harus banyak belajar. Komentar, berbagi
informasi, ralat, kritik dan saran yang membangun dari Anda, tentu sangat saya
butuhkan. Terima kasih dan semoga bermanfaat.
~Salamat Sa Iyo Para Sa Pagbabasa Ng Aking Artikulo~
26 September 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar