Senin, 27 Mei 2013

Forbidden Line

….
“Kenapa aku?”
“Ya karena aku termasuk orang yang kamu sayang,”
“Oooh…”
“Iya kan? Jujur!”
“Sayang karena kakak udah ku anggep kayak kakakku sendiri,”
“Ada perasaan lain juga kan?”
“Perasaan apa?”
“Perasaan sayang tapi lebih dari sekedar sayangnya adek ke kakaknya.”
“PD amat! Hahahaha….”
“Iya kan? Ayo jujur aja,”
“Nggak sih…. Dari awal pertama kenal juga cuma aku anggep kakak,”
“Oooh,”
Aku hanya tersenyum.
“Semoga itu benar perasaanmu,” katanya dengan nada sinis.
“Kenapa?”
“Gapapa,”

****


Aku terjebak. Aku terjebak dalam permainan “Kakak-Adek Zone” yang dibuat oleh kak Alvin. Kak Alvin adalah kakak kelasku sewaktu SMP, dan kami berteman sampai sekarang. Aku menyayangi kak Alvin seperti aku menyayangi kakakku sendiri. Namun tiba-tiba saja beberapa waktu ini, kak Alvin “mendekatiku”. Ia sering meneleponku, mengirimiku sms-sms ataupun bbm mesra, dan itu sangat membuatku…. Sakit! Ya! Hatiku sangat sakit dengan itu semua.
Bagaimana tidak? Kak Alvin sudah memiliki kekasih. Aku memang tak menyimpan rasa apapun padanya. Namun sebagai perempuan, hatiku perih mendapatkan sms-sms atau bbm mesra darinya, yang notabene bisa membuat perempuan yang mendapatkannya mabuk kepayang. Aku membayangkan, bagaimana kalau aku yang ada di posisi pacarnya dan mengetahui akan hal ini? Tentu rasanya akan sakit sekali. Dan aku, tak akan mungkin, jatuh hati pada kak Alvin. Mengetahui sifatnya yang seperti ini saja, sudah membuatku sakit.


****


“I love you” kata kak Alvin sambil menggenggam tanganku.
“….” Aku hanya diam dan mengalihkan pandangan.
“Kok diem aja sih?” kata kak Alvin dengan nada sedikit kesal. “Nggak sayang sama aku ya?”
“Kak, kakak ini udah punya pacar, kak….”
“Dia ngga bakal tau kok. Ayo lah, ama kakak sendiri ini apa salahnya sih?” kata kak Alvin sambil membelai rambutku.
“Jangan-jangan kakak gini ke semua ‘adek-adek’ kakak?” tanyaku penuh selidik.
“Nggak lah…. Aku cinta kamu ama dia doang kok,” jawab kak Alvin sambil menatap mataku dalam-dalam.


****


Malam sudah larut dan aku masih sibuk dengan setumpuk tugas dari dosen. Iseng-iseng aku membuka facebook dan mencari facebook pacarnya kak Alvin. Namanya Echa. Cantik, kataku dalam hati. Di koleksi foto-fotonya, ia tampak begitu mesra dengan kak Alvin. Mereka terlihat sangat cocok. Ku baca status facebooknya satu per satu, tampak bahwa kak Echa sangat menyayangi kak Alvin. Hatiku pedih melihat ini semua. Aku tak tau mengapa. Aku sedih melihat mereka berdua yang begitu mesra!
Kak Alvin pun, di facebook, twitter, maupun bbm, tampak sangat menyayangi kak Echa. Membuatku iri! Membuatku cemburu setengah mati!
Aku curhat tentang hal ini pada Harry, mantan pacarku. “Mungkin loe iri, karena ngga bisa kayak mereka,” kata Harry santai. Ya! Mungkin aku iri. Aku iri karena aku belum bisa seperti mereka. Mereka bisa pacaran dan bertahan selama itu, sedangkan aku, paling lama hanya dua tahun, yaitu saat aku bersama Harry. Namun aku merasa, walau hanya sebentar, tapi setidaknya, tak pernah ada kasus perselingkuhan dalam hubungan kami. Aku dan Harry putus karena memang sudah tak ada kecocokan dalam hubungan kami.
Seandainya pun, kak Alvin single, aku tak mau menjadi pacarnya. Dan aku masih bertanya-tanya, mengapa sifat kak Alvin berubah drastis? Kak Alvin beberapa waktu ini, sama sekali tak seperti kak Alvin yang ku kenal sebelumnya.
I wonder, why are people cheating? If they bored with their relationship, they have to talk to each other and correct the wrong part.


****


Sore ini, kak Alvin mengajakku hangout. Kami pergi ke toko buku, nonton, jalan-jalan ke mall, dan dinner berdua. Sangat menyenangkan. Serasa sedang kencan bersama pacar. Stop! Aku mikir apa sih? Kataku dalam hati. Aku berusaha membatasi perasaanku sendiri. Aku sudah cukup lama bersamanya – bersahabat – dan perakuannya akhir-akhir ini yang selalu membuatku merasa istimewa sedikit demi sedikit mulai meluluhkan dinding pertahananku yang selama ini telah kubangun.
“Aku punya satu kejutan buat kamu,” kata kak Alvin sambil memacu mobilnya dengan kecepatan sedang.
“Well, apa?”
“Sebentar lagi kita sampai,” jawab kak Alvin sambil tersenyum misterius.
Sepuluh menit kemudian, kami sampai di sebuah danau. Indah sekali, kataku dalam hati. Cahaya lampu membuat air danau menjadi berkilauan. Di tengah-tengah danau ada jembatan yang melengkung dan membelah danau menjadi dua bagian. Kak Alvin menggandengku menuju tengah-tengah jembatan. Dari situ, kami dapat melihat bintang-bintang bertaburan di langit gelap dan jauh dari gemerlap hiruk pikuk kota.
Aku memandangi langit dengan kagum. Dan tiba-tiba, kak Alvin merangkulku. Aku terdiam, dan merasakan detak jantung kak Alvin yang sangat keras.
“Kamu bisa ngerasain kan, gimana detak jantungku saat ini? Itu, itu yang kurasain ke kamu selama ini, Re,” kata kak Alvin sambil memelukku dengan lebih erat.
Aku tenggelam dalam pelukannya beberapa saat, sambil mencoba merangkai kata, namun lidahku kelu. Aku sangat merasa nyaman berada di dalam pelukannya. Namun di satu sisi hatiku menangis, rasa sakit itu mulai muncul.
Kak Alvin merenggangkan pelukannya, lalu melepasnya perlahan. Ia menggenggam tanganku dan menatap mataku dalam-dalam. Beberapa detik kemudian, wajahnya mendekati wajahku, hingga hidung kamu hampir bersentuhan.
“I love you,” ia berbisik di telingaku, lalu mengecup pelan bibirku.
Aku tak bisa menolaknya. Hatiku memberontak dan ingin sekali menghindari kecupannya itu, namun tubuhku membatu. Ada rasa sesal yang amat mendalam dalam hatiku. Dan perlahan air mataku mengucur deras.
“Kenapa kamu nangis, Re?” Tanya kak Alvin sambil mengusap air mataku.
“Aku mau pulang, kak. Tolong anterin aku pulang sekarang juga.”
Kak Alvin menuruti permintaanku. Ia segera mengantarkanku pulang. Sepanjang perjalanan aku hanya menunduk dan terdiam. Kak Alvin sesekali menggenggam tanganku. Kami berdua terdiam di sepanjang perjalanan. Sunyi.
I’ll never say I won’t love you. It maybe happen or not…. But if someday or sometimes it happens, I won’t forgive you.
Sampai di depan rumah, kak Alvin menghentikan laju mobilnya, mencium keningku, lalu ia keluar dan membukakan pintu mobilnya untukku. Ia mengantarkanku sampai depan pintu rumah, dan tak lupa berpamitan dengan mama sebelum ia pulang.
“Tante, Alvin pamit pulang dulu,” kata kak Alvin sambil mencium tangan mama.
“Iya Vin, hati-hati dijalan ya,”
“Iya Tante. Re, aku pulang dulu ya,” kata kak Alvin sambil menacak-acak rambutku dengan sayang.
“Hu’um,” kataku sambil mengangguk.
Kak Alvin masuk ke dalam mobilnya, dan perlahan mulai melaju. Mataku mengikuti arah laju mobilnya yang semakin lama semakin menjauh dan akhirnya menghilang.
I love you too…. Bisikku dalam hati setelah ia pergi.


****


Lupakan aku….
Kembali padanya….
Aku bukan siapa-siapa untukmu….
Ku cintaimu….
Tak berarti bahwa….
Ku harus memilikimu slamanya….
[Diantara Kalian – D’massiv]





Tidak ada komentar:

Posting Komentar