….
“Kenapa
aku?”
“Ya
karena aku termasuk orang yang kamu sayang,”
“Oooh…”
“Iya
kan? Jujur!”
“Sayang
karena kakak udah ku anggep kayak kakakku sendiri,”
“Ada
perasaan lain juga kan?”
“Perasaan
apa?”
“Perasaan
sayang tapi lebih dari sekedar sayangnya adek ke kakaknya.”
“PD
amat! Hahahaha….”
“Iya
kan? Ayo jujur aja,”
“Nggak
sih…. Dari awal pertama kenal juga cuma aku anggep kakak,”
“Oooh,”
Aku
hanya tersenyum.
“Semoga
itu benar perasaanmu,” katanya dengan nada sinis.
“Kenapa?”
****
Aku
terjebak. Aku terjebak dalam permainan “Kakak-Adek
Zone” yang dibuat oleh kak Alvin. Kak Alvin adalah kakak kelasku sewaktu
SMP, dan kami berteman sampai sekarang. Aku menyayangi kak Alvin seperti aku
menyayangi kakakku sendiri. Namun tiba-tiba saja beberapa waktu ini, kak Alvin
“mendekatiku”. Ia sering meneleponku, mengirimiku sms-sms ataupun bbm mesra,
dan itu sangat membuatku…. Sakit! Ya! Hatiku sangat sakit dengan itu semua.
Bagaimana
tidak? Kak Alvin sudah memiliki kekasih. Aku memang tak menyimpan rasa apapun
padanya. Namun sebagai perempuan, hatiku perih mendapatkan sms-sms atau bbm
mesra darinya, yang notabene bisa membuat perempuan yang mendapatkannya mabuk
kepayang. Aku membayangkan, bagaimana kalau aku yang ada di posisi pacarnya dan
mengetahui akan hal ini? Tentu rasanya akan sakit sekali. Dan aku, tak akan
mungkin, jatuh hati pada kak Alvin. Mengetahui sifatnya yang seperti ini saja,
sudah membuatku sakit.
****
“I
love you” kata kak Alvin sambil menggenggam tanganku.
“….”
Aku hanya diam dan mengalihkan pandangan.
“Kok
diem aja sih?” kata kak Alvin dengan nada sedikit kesal. “Nggak sayang sama aku
ya?”
“Kak,
kakak ini udah punya pacar, kak….”
“Dia
ngga bakal tau kok. Ayo lah, ama kakak sendiri ini apa salahnya sih?” kata kak
Alvin sambil membelai rambutku.
“Jangan-jangan
kakak gini ke semua ‘adek-adek’ kakak?” tanyaku penuh selidik.
“Nggak
lah…. Aku cinta kamu ama dia doang kok,” jawab kak Alvin sambil menatap mataku
dalam-dalam.
****
Malam
sudah larut dan aku masih sibuk dengan setumpuk tugas dari dosen. Iseng-iseng
aku membuka facebook dan mencari facebook pacarnya kak Alvin. Namanya Echa. Cantik, kataku dalam hati. Di koleksi
foto-fotonya, ia tampak begitu mesra dengan kak Alvin. Mereka terlihat sangat
cocok. Ku baca status facebooknya satu per satu, tampak bahwa kak Echa sangat
menyayangi kak Alvin. Hatiku pedih melihat ini semua. Aku tak tau mengapa. Aku
sedih melihat mereka berdua yang begitu mesra!
Kak
Alvin pun, di facebook, twitter, maupun bbm, tampak sangat menyayangi kak Echa.
Membuatku iri! Membuatku cemburu setengah mati!
Aku
curhat tentang hal ini pada Harry, mantan pacarku. “Mungkin loe iri, karena
ngga bisa kayak mereka,” kata Harry santai. Ya! Mungkin aku iri. Aku iri karena
aku belum bisa seperti mereka. Mereka bisa pacaran dan bertahan selama itu,
sedangkan aku, paling lama hanya dua tahun, yaitu saat aku bersama Harry. Namun
aku merasa, walau hanya sebentar, tapi setidaknya, tak pernah ada kasus
perselingkuhan dalam hubungan kami. Aku dan Harry putus karena memang sudah tak
ada kecocokan dalam hubungan kami.
Seandainya
pun, kak Alvin single, aku tak mau menjadi pacarnya. Dan aku masih
bertanya-tanya, mengapa sifat kak Alvin berubah drastis? Kak Alvin beberapa
waktu ini, sama sekali tak seperti kak Alvin yang ku kenal sebelumnya.
I wonder, why are people cheating?
If they bored with their relationship, they have to talk to each other and
correct the wrong part.
****
Sore
ini, kak Alvin mengajakku hangout. Kami pergi ke toko buku, nonton, jalan-jalan
ke mall, dan dinner berdua. Sangat menyenangkan. Serasa sedang kencan bersama
pacar. Stop! Aku mikir apa sih?
Kataku dalam hati. Aku berusaha membatasi perasaanku sendiri. Aku sudah cukup
lama bersamanya – bersahabat – dan perakuannya akhir-akhir ini yang selalu
membuatku merasa istimewa sedikit demi sedikit mulai meluluhkan dinding
pertahananku yang selama ini telah kubangun.
“Aku
punya satu kejutan buat kamu,” kata kak Alvin sambil memacu mobilnya dengan
kecepatan sedang.
“Well,
apa?”
“Sebentar
lagi kita sampai,” jawab kak Alvin sambil tersenyum misterius.
Sepuluh
menit kemudian, kami sampai di sebuah danau. Indah sekali, kataku dalam hati. Cahaya lampu membuat air danau
menjadi berkilauan. Di tengah-tengah danau ada jembatan yang melengkung dan
membelah danau menjadi dua bagian. Kak Alvin menggandengku menuju tengah-tengah
jembatan. Dari situ, kami dapat melihat bintang-bintang bertaburan di langit
gelap dan jauh dari gemerlap hiruk pikuk kota.
Aku
memandangi langit dengan kagum. Dan tiba-tiba, kak Alvin merangkulku. Aku
terdiam, dan merasakan detak jantung kak Alvin yang sangat keras.
“Kamu
bisa ngerasain kan, gimana detak jantungku saat ini? Itu, itu yang kurasain ke
kamu selama ini, Re,” kata kak Alvin sambil memelukku dengan lebih erat.
Aku
tenggelam dalam pelukannya beberapa saat, sambil mencoba merangkai kata, namun
lidahku kelu. Aku sangat merasa nyaman berada di dalam pelukannya. Namun di
satu sisi hatiku menangis, rasa sakit itu mulai muncul.
Kak
Alvin merenggangkan pelukannya, lalu melepasnya perlahan. Ia menggenggam
tanganku dan menatap mataku dalam-dalam. Beberapa detik kemudian, wajahnya
mendekati wajahku, hingga hidung kamu hampir bersentuhan.
“I
love you,” ia berbisik di telingaku, lalu mengecup pelan bibirku.
Aku
tak bisa menolaknya. Hatiku memberontak dan ingin sekali menghindari kecupannya
itu, namun tubuhku membatu. Ada rasa sesal yang amat mendalam dalam hatiku. Dan
perlahan air mataku mengucur deras.
“Kenapa
kamu nangis, Re?” Tanya kak Alvin sambil mengusap air mataku.
“Aku
mau pulang, kak. Tolong anterin aku pulang sekarang juga.”
Kak
Alvin menuruti permintaanku. Ia segera mengantarkanku pulang. Sepanjang
perjalanan aku hanya menunduk dan terdiam. Kak Alvin sesekali menggenggam
tanganku. Kami berdua terdiam di sepanjang perjalanan. Sunyi.
I’ll never say I won’t love you. It
maybe happen or not…. But if someday or sometimes it happens, I won’t forgive
you.
Sampai
di depan rumah, kak Alvin menghentikan laju mobilnya, mencium keningku, lalu ia
keluar dan membukakan pintu mobilnya untukku. Ia mengantarkanku sampai depan pintu
rumah, dan tak lupa berpamitan dengan mama sebelum ia pulang.
“Tante,
Alvin pamit pulang dulu,” kata kak Alvin sambil mencium tangan mama.
“Iya
Vin, hati-hati dijalan ya,”
“Iya
Tante. Re, aku pulang dulu ya,” kata kak Alvin sambil menacak-acak rambutku
dengan sayang.
“Hu’um,”
kataku sambil mengangguk.
Kak
Alvin masuk ke dalam mobilnya, dan perlahan mulai melaju. Mataku mengikuti arah
laju mobilnya yang semakin lama semakin menjauh dan akhirnya menghilang.
I love you too….
Bisikku dalam hati setelah ia pergi.
****
Lupakan aku….
Kembali padanya….
Aku bukan
siapa-siapa untukmu….
Ku cintaimu….
Tak berarti
bahwa….
Ku harus
memilikimu slamanya….
[Diantara Kalian –
D’massiv]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar