Metodologi
Penelitian Filsafat
Dr.
Anton Bakker
Drs.
Achmad Charris Zubair
Penelitian tentang filsafat sudah
berjalan cukup lama, namun bentuknya sangat beragam dan tidak ada pembakuan,
sehingga terkesan seperti hasil karangan belaka. Buku yang berjudul Metodologi
Penelitian Filsafat ini adalah sebuah buku yang sangat ringkas dalam
menerangkan dasar-dasar penelitian filsafat, hanya 125 halaman yang terdiri
dari sepuluh bab; pendahuluan, objek ilmu dan objek filsafat, unsur-unsur umum
bagi penelitian filsafat, usulan penelitian filsafat dan model-model penelitian
filsafat yang berisi unsur-unsur metodis umum untuk sejumlah model.
Tujuan penelitian adalah untuk merumuskan
permasalahan, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencoba menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut, karena seperti yang kita tahu, tujuan dari
filsafat adalah untuk senatiasa menciptakan konsep yang selalu baru. Sedangkan
hakikat dari penelitian adalah menemukan prinsip-prinsip baru untuk
mengantisipasi perubahan dan perkembangan yang terjadi. Dan seiring dengan
perkembangan dan pengembangan ilmu pengetahuan, maka dituntut adanya
penelitian. Tanpa adanya penelitian, ilmu pengetahuan akan mati.
Filsafat sendiri merupakan objek bidang
penelitian yang sangat unik karena berbeda dengan ilmu pengetahuan yang
lainnya. Filsafat merupakan kegiatan refleksif,
berupa perenungan untuk memperoleh kebenaran yang mendasar; menemukan
makna, inti dari segala inti, dan kebenaran sejati. Maka dari itu dapat
dikatakan bahwa filsafat itu bersifat personal. Namun karena bersifat personal,
hal ini terkadang juga dapat mengaburkan makna dari ‘kebenaran’ karena setiap
orang mempunyai sudut pandangnya sendiri-sendiri tentang kebenaran, dan sesungguhnya tak ada satu hal pun di dunia
ini yang bersifat objektif. Selain itu filsafat sebagai sebuah cabang ilmu juga
menguraikan dan merumuskan hakikat realitas secara sistematis-metodis, dan inilah yang menjadi letak kekuatan
filsafat: menjadi sistemasi pandangan hidup secara menyeluruh.
Setiap ilmu pengetahuan memiliki gaya metodologisnya
tersendiri, termasuk filsafat. Disini, gaya berfilsafat dibagi menjadi dua,
yaitu gaya edukatif dan gaya inventif. Gaya edukatif memberikan penjelasan
teratur dan sistematis tentang seluruh bidang filsafat. Namun gaya edukatif ini
dinilai terlalu objektivis dan statis,
sehingga menjadi suatu sumber ilmu pengetahuan yang selesai jadi. Maka untuk
mengimbangi gaya edukatif tersebut, muncullah gaya inventif. Gaya ini mencari pemahaman baru terhadap modal pemikiran
yang telah dikumpulkan, dan berusaha memberikan pemecahan bagi masalah-masalah
yang belum diselesaikan. Gaya inilah yang nantinya digunakan untuk penelitian
di bidang filsafat. Penelitian ini bersifat heuristis.
Heuristika dalam filsafat adalah aktualisasi
pemikiran yang terus-menerus.
Metodologi ilmiah pada umumnya
berhubungan dengan pengetahuan manusia. Maka jika dipelajari secara filosofis,
metodologi pada umumnya merupakan bagian epistemologi
atau filsafat pengetahuan. Namun dalam hal penelitian filsafat jika
metodologi diterapkan pada suatu ilmu khusus (yaitu filsafat), maka akan
menjadi bagian dalam filsafat ilmu (epistemologi
khusus).
Lalu, apa yang menjadi objek dari
penelitian filsafat? Tentu saja jawabnya adalah manusia. Karena semua bidang
yang dipelajari dalam filsafat selalu berkaitan dengan hakikat manusia sendiri.
Manusia merupakan objek yang paling kaya dan paling padat dalam lingkup
pengalaman lingkup pengalaman manusia yang langsung. Karena manusia adalah
objek formal filsafat, ia memiliki sifat-sifat dasar yang menyebabkan adanya
kekhususan metodologi dalam penelitian filsafat, antara lain: (1) objek dan
subjek; (2) ekspresif dan intensif; (3) berhubungan (relatif) dan otonom; (4)
sama dan unik; (5) lama (tetap) dan baru.
Objek formal dalam filsafat dengan
sifat-sifatnya yang khas hanya dapat diselidiki dengan metode hermeneutika, yaitu metode intepretasi.
Di dalam metode hermeneutika tersebut terdapat unsur dan langkah antara lain
intepretasi, induksi dan deduksi, koherensi intern, holistika, kesinambungan
historis, idealisasi, komparasi, heuristika, bahasa inklusif atau analogal, dan
deskripsi. Masing-masing dari unsur metodis
tersebut merupakan konsekuensi atas objek formal yang harus dijalankan
dalam setiap penelitian filsafat.
Pada bab 4 s.d 10, unsur-unsur metodis
tadi diterapkan ke dalam beberapa model sesuai dengan objek formalnya, mulai
dari yang sederhana, hingga yang kompleks. Metodologi penelitian ini diperinci
untuk memperlihatkan kekhususan penelitian filosofis. Walau pada kenyataannya,
tetap ada persamaannya dengan penelitian dalam bidang ilmiah lain, seperti
penggunaan metode kualitatif dalam ilmu-ilmu sosial atau ilmu humaniora. Namun
metode kualitatif ini juga menampakkan perbedaan yang sangat besar dan mencolok
sehingga penelitian filsafat tak bisa disamakan dengan metodologi penelitian
dalam disiplin ilmu lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar