Jumat, 28 Juni 2013

Review Buku : Metodologi Penelitian Filsafat

Metodologi Penelitian Filsafat
Dr. Anton Bakker
Drs. Achmad Charris Zubair

Penelitian tentang filsafat sudah berjalan cukup lama, namun bentuknya sangat beragam dan tidak ada pembakuan, sehingga terkesan seperti hasil karangan belaka. Buku yang berjudul Metodologi Penelitian Filsafat ini adalah sebuah buku yang sangat ringkas dalam menerangkan dasar-dasar penelitian filsafat, hanya 125 halaman yang terdiri dari sepuluh bab; pendahuluan, objek ilmu dan objek filsafat, unsur-unsur umum bagi penelitian filsafat, usulan penelitian filsafat dan model-model penelitian filsafat yang berisi unsur-unsur metodis umum untuk sejumlah model.

Tujuan penelitian adalah untuk merumuskan permasalahan, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, karena seperti yang kita tahu, tujuan dari filsafat adalah untuk senatiasa menciptakan konsep yang selalu baru. Sedangkan hakikat dari penelitian adalah menemukan prinsip-prinsip baru untuk mengantisipasi perubahan dan perkembangan yang terjadi. Dan seiring dengan perkembangan dan pengembangan ilmu pengetahuan, maka dituntut adanya penelitian. Tanpa adanya penelitian, ilmu pengetahuan akan mati.
Filsafat sendiri merupakan objek bidang penelitian yang sangat unik karena berbeda dengan ilmu pengetahuan yang lainnya. Filsafat merupakan kegiatan refleksif,  berupa perenungan untuk memperoleh kebenaran yang mendasar; menemukan makna, inti dari segala inti, dan kebenaran sejati. Maka dari itu dapat dikatakan bahwa filsafat itu bersifat personal. Namun karena bersifat personal, hal ini terkadang juga dapat mengaburkan makna dari ‘kebenaran’ karena setiap orang mempunyai sudut pandangnya sendiri-sendiri tentang kebenaran, dan  sesungguhnya tak ada satu hal pun di dunia ini yang bersifat objektif. Selain itu filsafat sebagai sebuah cabang ilmu juga menguraikan dan merumuskan hakikat realitas secara sistematis-metodis, dan inilah yang menjadi letak kekuatan filsafat: menjadi sistemasi pandangan hidup secara menyeluruh.
Setiap ilmu pengetahuan memiliki gaya metodologisnya tersendiri, termasuk filsafat. Disini, gaya berfilsafat dibagi menjadi dua, yaitu gaya edukatif dan gaya inventif. Gaya edukatif memberikan penjelasan teratur dan sistematis tentang seluruh bidang filsafat. Namun gaya edukatif ini dinilai terlalu objektivis dan statis, sehingga menjadi suatu sumber ilmu pengetahuan yang selesai jadi. Maka untuk mengimbangi gaya edukatif tersebut, muncullah gaya inventif. Gaya ini mencari pemahaman baru terhadap modal pemikiran yang telah dikumpulkan, dan berusaha memberikan pemecahan bagi masalah-masalah yang belum diselesaikan. Gaya inilah yang nantinya digunakan untuk penelitian di bidang filsafat. Penelitian ini bersifat heuristis. Heuristika dalam filsafat adalah aktualisasi pemikiran yang terus-menerus.
Metodologi ilmiah pada umumnya berhubungan dengan pengetahuan manusia. Maka jika dipelajari secara filosofis, metodologi pada umumnya merupakan bagian epistemologi atau filsafat pengetahuan. Namun dalam hal penelitian filsafat jika metodologi diterapkan pada suatu ilmu khusus (yaitu filsafat), maka akan menjadi bagian dalam filsafat ilmu (epistemologi khusus).
Lalu, apa yang menjadi objek dari penelitian filsafat? Tentu saja jawabnya adalah manusia. Karena semua bidang yang dipelajari dalam filsafat selalu berkaitan dengan hakikat manusia sendiri. Manusia merupakan objek yang paling kaya dan paling padat dalam lingkup pengalaman lingkup pengalaman manusia yang langsung. Karena manusia adalah objek formal filsafat, ia memiliki sifat-sifat dasar yang menyebabkan adanya kekhususan metodologi dalam penelitian filsafat, antara lain: (1) objek dan subjek; (2) ekspresif dan intensif; (3) berhubungan (relatif) dan otonom; (4) sama dan unik; (5) lama (tetap) dan baru.
Objek formal dalam filsafat dengan sifat-sifatnya yang khas hanya dapat diselidiki dengan metode hermeneutika, yaitu metode intepretasi. Di dalam metode hermeneutika tersebut terdapat unsur dan langkah antara lain intepretasi, induksi dan deduksi, koherensi intern, holistika, kesinambungan historis, idealisasi, komparasi, heuristika, bahasa inklusif atau analogal, dan deskripsi. Masing-masing dari unsur metodis  tersebut merupakan konsekuensi atas objek formal yang harus dijalankan dalam setiap penelitian filsafat.

Pada bab 4 s.d 10, unsur-unsur metodis tadi diterapkan ke dalam beberapa model sesuai dengan objek formalnya, mulai dari yang sederhana, hingga yang kompleks. Metodologi penelitian ini diperinci untuk memperlihatkan kekhususan penelitian filosofis. Walau pada kenyataannya, tetap ada persamaannya dengan penelitian dalam bidang ilmiah lain, seperti penggunaan metode kualitatif dalam ilmu-ilmu sosial atau ilmu humaniora. Namun metode kualitatif ini juga menampakkan perbedaan yang sangat besar dan mencolok sehingga penelitian filsafat tak bisa disamakan dengan metodologi penelitian dalam disiplin ilmu lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar