Sabtu, 06 April 2013

Love is Love




Namanya Oliver. Aku pertama kali bertemu dengannya di sebuah toko buku. Saat itu kami tak sengaja mengambil sebuah buku yang sama secara bersamaan. Ya! Dan tangan kami bersentuhan, dan akhirnya kami saling padang. Tatapan bola matanya yang berwarna coklat membuatku terkesima. Jantungku berdetak tak karuan.
Akhirnya ia memberikan buku itu padaku, dan tanpa sadar aku menolaknya dan mengembalikan buku itu padanya. Ia memegang tanganku, kemudian menaruh buku itu dalam genggamanku. Beberapa saat kemudian kami tersadar dan akhirnya saling tertawa satu sama lain. It was an awkward momet ever!
“Oliver,” kata pria tampan itu sambil mengulurkan tangannya.
“….”
Kami berkenalan, kemudian saling bertukar nomor handphone dan pin bb. Sejak saat itu kami semakin akrab dan semakin sering bertemu, entah sekedar ke toko buku bersama, ataupun makan siang bersama.

****

13 Februari 2013
Hari ini adalah hari ulang tahun Oliver. Aku telah mempersiapkan sebuah kado istimewa untuknya yaitu sebuah jam tangan Rolex. Oliver adalah seorang eksekutif muda yang sangat disiplin waktu. Aku yakin, kado dariku ini, akan selalu ia gunakan.
Jam menunjukkan pukul 18.30. aku segera bersiap-siap pergi menuju restaurant favorit kami berdua. Malam ini aku hanya mengenakan t-shirt, jaket, skinny jeans, dan sepatu kets. Oliver memintaku berdandan biasa saja, tak usah terlalu formal karena ia ingin suasana yang santai dalam perayaan ulang tahunnya malam ini. Aku memacu motorku dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan aku tersenyum. Aku tak sabar bertemu dengan Oliver.
Dua puluh menit kemudian, aku sampai di restaurant tempat kami janjian. Aku segera masuk ke dalam restaurant dan mencari Oliver. Dari kejauhan Oliver melambaikan tangannya. Aku hanya tersenyum sambil berjalan ke arahnya. Sudah kuduga, Oliver sangat tampan malam ini. Pakainannya sangat santai dan casual.
“Happy Birthday, O,” kataku sambil mengulurkan bungkusan kado untuknya.
“Well, thanks,” kata Oliver sambil mempersilahkanku duduk.
Aku duduk di hadapan Oliver. Oliver tersenyum.
Tak lama kemudian muncul seorang wanita cantik yang datang dan duduk di sebelah Oliver. Cantik, langsing, tinggi, dan rambut indahnya tergerai halus. Tubuh indahnya terbalut oleh busana yang chic dan sangat feminine, namun tetap simple dan santai.
Kami berkenalan. Wanita cantik itu bernama Grace. Grace adalah pribadi yang menyenangkan. Dan dari tatapan matanya, ia tampaknya menyukai Oliver. Jujur aku sedikit cemburu. Aku takut jika nantinya Oliver akan berpaling dariku. Sosok Grace yang sempurna, pasti membuat siapa saja ingin memilikinya.
Beberapa waktu kemudian makanan yang telah di pesan oleh Oliver datang. Oh Tuhan! Bahkan Oliver memesan semua makanan favoritku! Aku tak menyangka kalau Oliver ingat semua makanan kesukaanku!
Kami menyanyikan lagu Happy Birthday untuk Oliver. Sesaat sebelum meniup lilin, ia berdoa, sebelum akhirnya ia meniup lilinnya.
Malam ini sungguh menyenangkan. Kalau saja Grace tak ikut hadir, mungkin akan lebih menyenangkan, kataku dalam hati.
“Grace?”
“Ya?” jawab Grace seraya menoleh, dan aku pun ikut menoleh.
“Itu….,”
“Ada apa Oliver?” Grace kebingungan.
Oliver segera mengambil tissue dan mengelap sisa makanan yang tersisa di sudut bibir Grace. Shit man! Teriakku dalam hati.
“Aku mau ke toilet sebentar,” kataku seraya pergi tanpa memandang kea rah mereka.
Sial! Kenapa sih tuh cewek? Lagian kenapa Oliver pake ngajak dia segala? Apa dia itu pacar Oliver? Atau tunangannya? Aku mengomel dalam hati. Ku keluarkan rokok yang ada di dalam sakuku, kemudian menyalakannya, lalu menghisapnya. Aku bukan perokok. Namun aku menghisap rokok ketika aku sedang marah.
Beberapa menit kemudian, Oliver menyusulku. Ia masuk ke dalam toilet dan melihatku merokok. Dengan sigap, ia mengambil rokokku, mematikannya, lalu membuangnya.
“Kamu marah?” Tanya Oliver.
“Pake nanya lagi,” jawabku ketus sambil memalingkan wajah.
Tak lama kemudian, Oliver memelukku. Aku bisa merasakan wangi parfum Hugo Boss Army favorit Oliver. Aku sangat suka ketika Oliver menggunakan parfum ini dibanding parfum Oliver yang lainnya. Perpaduan wangi grapefruit, green apple, floral dan wangi manis yang dominan memberi kesan warm dan sweet. “My dearest Edward…. Dia itu cuma sekretarisku di kantor. Aku ngga ada hubungan apa-apa sama dia. Aku sayang kamu. Aku cinta kamu, Ed,” kata Oliver sambil mempererat pelukannya.
“Apa buktinya kalo kamu cinta aku?”
“Aku akan memperjuangkan kamu,”
“….”
“Aku mau ada proyek di Australia selama dua tahun. Setelah semuanya selesai, aku akan kembali secepatnya buat kamu. Inget, cuma buat kamu, Ed.”
“Orang tua kamu, maupun orang tuaku, ngga akan ada yang pernah setuju sama hubungan kita, O,” kataku pesimis. “Dan aku, aku ngga mau jadi Rufus Sixsmith yang akhirnya ditinggal ama Robert Frobisher!”
“Edward…. Love is love. Love is our rights. It’s okay for us to love each other. Aku, akan berjuang buat kamu. Buat kita,” kata Oliver sambil melepaskan pelukannya dan menatap mataku.
“Makasih, O,”
“Tapi kamu harus janji, kamu harus sabar nunggu aku, selama aku di Australia nanti,” kata Oliver sambil mengacungkan jari kelingking kanannya.
“Janji, O. Aku janji, akan nunggu kamu,” kataku sambil mengaitkan jari kelingking kananku ke kelingking kanan Oliver.
Beberapa saat kemudian, Oliver menciumku untuk pertama kalinya. Aku merasakan seakan ada aliran listrik yang mengalir dari tubuh Oliver ke tubuhku. Seakan dunia ini sesaat hanya menjadi milikku dan Oliver, dan aku menikmatinya.
“Nah, jangan ngambek lagi ya,” kata Oliver sambil menngacak-acak rambutku. “Oiya, makasih ya jam tangannya, aku suka banget,” kata Oliver sambil memperlihatkan jam tangan dariku yang kini sudah melingkar di pergelangan tangan kirinya.
“Hehehehe…. Iya deh,” jawabku smabil meringis.
“Yaudah, yuk balik…. Grace bisa curiga kalo kita berdua kelamaan disini,” kata Oliver sambil mengedipkan sebelah mata.
“Hu’um”
Kami kembali ke meja kami. Grace memandangi kami berdua dengan sedikit kesal.
“Kalian berdua lama amat di kamar mandi?” Tanya Grace penuh selidik.
Aku dan Oliver saling pandang dan mengedipkan mata.
“Sorry Grace, tadi Edward muntah-muntah. Dia alergi bawang,” kata Oliver sambil menunjuk salah satu makanan. “Dia lupa bawa obatnya. Untung aku bawa, jadi ku tunggu sekalian sampe dia selese muntah. Maaf ya,”
“Oh, ya, I see…. Get well soon, Ed,” kata Grace sambil tersenyum.
Dasar Oliver! Bisa aja cari alasan, kataku sambil tertawa dalam hati.

Ya, Love is love. Love is our rights.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar