Namanya
Oliver. Aku pertama kali bertemu dengannya di sebuah toko buku. Saat itu kami
tak sengaja mengambil sebuah buku yang sama secara bersamaan. Ya! Dan tangan
kami bersentuhan, dan akhirnya kami saling padang. Tatapan bola matanya yang berwarna
coklat membuatku terkesima. Jantungku berdetak tak karuan.
Akhirnya
ia memberikan buku itu padaku, dan tanpa sadar aku menolaknya dan mengembalikan
buku itu padanya. Ia memegang tanganku, kemudian menaruh buku itu dalam
genggamanku. Beberapa saat kemudian kami tersadar dan akhirnya saling tertawa
satu sama lain. It was an awkward momet ever!
“Oliver,”
kata pria tampan itu sambil mengulurkan tangannya.
“….”
Kami
berkenalan, kemudian saling bertukar nomor handphone dan pin bb. Sejak saat itu
kami semakin akrab dan semakin sering bertemu, entah sekedar ke toko buku
bersama, ataupun makan siang bersama.
****
13 Februari 2013
Hari
ini adalah hari ulang tahun Oliver. Aku telah mempersiapkan sebuah kado istimewa
untuknya yaitu sebuah jam tangan Rolex. Oliver adalah seorang eksekutif muda
yang sangat disiplin waktu. Aku yakin, kado dariku ini, akan selalu ia gunakan.
Jam
menunjukkan pukul 18.30. aku segera bersiap-siap pergi menuju restaurant
favorit kami berdua. Malam ini aku hanya mengenakan t-shirt, jaket, skinny
jeans, dan sepatu kets. Oliver memintaku berdandan biasa saja, tak usah terlalu
formal karena ia ingin suasana yang santai dalam perayaan ulang tahunnya malam
ini. Aku memacu motorku dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan aku
tersenyum. Aku tak sabar bertemu dengan Oliver.
Dua
puluh menit kemudian, aku sampai di restaurant tempat kami janjian. Aku segera
masuk ke dalam restaurant dan mencari Oliver. Dari kejauhan Oliver melambaikan
tangannya. Aku hanya tersenyum sambil berjalan ke arahnya. Sudah kuduga, Oliver
sangat tampan malam ini. Pakainannya sangat santai dan casual.
“Happy
Birthday, O,” kataku sambil mengulurkan bungkusan kado untuknya.
“Well,
thanks,” kata Oliver sambil mempersilahkanku duduk.
Aku
duduk di hadapan Oliver. Oliver tersenyum.
Tak
lama kemudian muncul seorang wanita cantik yang datang dan duduk di sebelah
Oliver. Cantik, langsing, tinggi, dan rambut indahnya tergerai halus. Tubuh
indahnya terbalut oleh busana yang chic dan sangat feminine, namun tetap simple
dan santai.
Kami
berkenalan. Wanita cantik itu bernama Grace. Grace adalah pribadi yang
menyenangkan. Dan dari tatapan matanya, ia tampaknya menyukai Oliver. Jujur aku
sedikit cemburu. Aku takut jika nantinya Oliver akan berpaling dariku. Sosok
Grace yang sempurna, pasti membuat siapa saja ingin memilikinya.
Beberapa
waktu kemudian makanan yang telah di pesan oleh Oliver datang. Oh Tuhan! Bahkan Oliver memesan semua
makanan favoritku! Aku tak menyangka kalau Oliver ingat semua makanan
kesukaanku!
Kami
menyanyikan lagu Happy Birthday untuk Oliver. Sesaat sebelum meniup lilin, ia
berdoa, sebelum akhirnya ia meniup lilinnya.
Malam
ini sungguh menyenangkan. Kalau saja
Grace tak ikut hadir, mungkin akan lebih menyenangkan, kataku dalam hati.
“Grace?”
“Ya?”
jawab Grace seraya menoleh, dan aku pun ikut menoleh.
“Itu….,”
“Ada
apa Oliver?” Grace kebingungan.
Oliver
segera mengambil tissue dan mengelap sisa makanan yang tersisa di sudut bibir
Grace. Shit man! Teriakku dalam hati.
“Aku
mau ke toilet sebentar,” kataku seraya pergi tanpa memandang kea rah mereka.
Sial! Kenapa sih tuh cewek? Lagian
kenapa Oliver pake ngajak dia segala? Apa dia itu pacar Oliver? Atau
tunangannya? Aku mengomel dalam hati. Ku keluarkan
rokok yang ada di dalam sakuku, kemudian menyalakannya, lalu menghisapnya. Aku
bukan perokok. Namun aku menghisap rokok ketika aku sedang marah.
Beberapa
menit kemudian, Oliver menyusulku. Ia masuk ke dalam toilet dan melihatku
merokok. Dengan sigap, ia mengambil rokokku, mematikannya, lalu membuangnya.
“Kamu
marah?” Tanya Oliver.
“Pake
nanya lagi,” jawabku ketus sambil memalingkan wajah.
Tak
lama kemudian, Oliver memelukku. Aku bisa merasakan wangi parfum Hugo Boss Army
favorit Oliver. Aku sangat suka ketika Oliver menggunakan parfum ini dibanding
parfum Oliver yang lainnya. Perpaduan wangi grapefruit, green apple, floral dan
wangi manis yang dominan memberi kesan warm dan sweet. “My dearest Edward…. Dia
itu cuma sekretarisku di kantor. Aku ngga ada hubungan apa-apa sama dia. Aku
sayang kamu. Aku cinta kamu, Ed,” kata Oliver sambil mempererat pelukannya.
“Apa
buktinya kalo kamu cinta aku?”
“Aku
akan memperjuangkan kamu,”
“….”
“Aku
mau ada proyek di Australia selama dua tahun. Setelah semuanya selesai, aku
akan kembali secepatnya buat kamu. Inget, cuma buat kamu, Ed.”
“Orang
tua kamu, maupun orang tuaku, ngga akan ada yang pernah setuju sama hubungan
kita, O,” kataku pesimis. “Dan aku, aku ngga mau jadi Rufus Sixsmith yang akhirnya ditinggal ama Robert Frobisher!”
“Edward….
Love is love. Love is our rights. It’s okay for us to love each other. Aku,
akan berjuang buat kamu. Buat kita,” kata Oliver sambil melepaskan pelukannya
dan menatap mataku.
“Makasih,
O,”
“Tapi
kamu harus janji, kamu harus sabar nunggu aku, selama aku di Australia nanti,”
kata Oliver sambil mengacungkan jari kelingking kanannya.
“Janji,
O. Aku janji, akan nunggu kamu,” kataku sambil mengaitkan jari kelingking
kananku ke kelingking kanan Oliver.
Beberapa
saat kemudian, Oliver menciumku untuk pertama kalinya. Aku merasakan seakan ada
aliran listrik yang mengalir dari tubuh Oliver ke tubuhku. Seakan dunia ini
sesaat hanya menjadi milikku dan Oliver, dan aku menikmatinya.
“Nah,
jangan ngambek lagi ya,” kata Oliver sambil menngacak-acak rambutku. “Oiya,
makasih ya jam tangannya, aku suka banget,” kata Oliver sambil memperlihatkan
jam tangan dariku yang kini sudah melingkar di pergelangan tangan kirinya.
“Hehehehe….
Iya deh,” jawabku smabil meringis.
“Yaudah,
yuk balik…. Grace bisa curiga kalo kita berdua kelamaan disini,” kata Oliver
sambil mengedipkan sebelah mata.
“Hu’um”
Kami
kembali ke meja kami. Grace memandangi kami berdua dengan sedikit kesal.
“Kalian
berdua lama amat di kamar mandi?” Tanya Grace penuh selidik.
Aku
dan Oliver saling pandang dan mengedipkan mata.
“Sorry
Grace, tadi Edward muntah-muntah. Dia alergi bawang,” kata Oliver sambil
menunjuk salah satu makanan. “Dia lupa bawa obatnya. Untung aku bawa, jadi ku
tunggu sekalian sampe dia selese muntah. Maaf ya,”
“Oh,
ya, I see…. Get well soon, Ed,” kata Grace sambil tersenyum.
Dasar Oliver! Bisa aja cari alasan,
kataku sambil tertawa dalam hati.
Ya,
Love is love. Love is our rights.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar