1
CULTURAL STUDIES DAN KAJIAN BUDAYA POP : SEBUAH PENGANTAR
Buku ini memiliki tujuan ganda : pertama, mengantarkan pembaca yang tertarik pada kajian budaya pop kontemporer; kedua, mengusulkan peta perkembangan cultural studies melalui suatu pembahasan serangkaian teori dan metode untuk mengkaji budaya pop.
CULTURAL STUDIES DAN KAJIAN BUDAYA POP
Cultural studies bukanlah sekumpulan teori dan metode yang monolitik. Cultural studies senatiasa merupakan wacana yang membentang, yang merespons kondisi politik dan historis yang berubah dan selalu ditandai dengan perdebatan, ketidaksetujuan, dan intervensi.
Budaya dalam cultural studies lebih didefinisikan secara politis ketimbang secara estetis. Objek kajian dalam cultural studies bukanlah budaya yang didefinisikan dalam pengertian yang sempit, yaitu sebagai objek keadiluhungan estetis (‘seni tinggi’); juga bukan budaya yang didefinisikan dalam pengertian yang sama-sama sempit, yaitu sebagai sebuah prosesperkembangan estetis, intelektual, dan spiritual; melainkan budaya yang dipahami sebagai teks dan praktik hidup sehari-hari. Cultural studies juga menganggap budaya itu bersifat politis dalam pengertian yang sangat spesifik, yaitu sebagai ranah konflik dan pergumulan. Cultural studies dilihat sebagai situs penting bagi produksi dan reproduksi hubungan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Cultural studies didasarkan pada marxisme. Marxisme menerangkan cultural studies dalam dua cara fundamental. Pertama, untuk memahami makna dari teks atau praktik budaya, kita harus menganalisisnya dalam konteks sosial dan historis produksi dan konsumsinya. Namun, walau terbentuk oleh struktur sosial tertentu dengan sejarah tertentu, budaya tidak dikaji sebagai refleksi dari struktur dan sejarah ini. Sejarah dan budaya bukanlah entitas yang terpisah. Asumsi kedua yang diambil dari marxisme adalah pengenalan masyarakat industrial kapitalis adalah masyarakat yang disekat-sekat secara tidak adil menurut misalnya saja garis etnis, gender, keturunan, dan kelas.
Cultural studies juga menegaskan bahwa penciptaan budaya pop (‘praktik produksi’) bisa menentang pemahaman dominan terhadap dunia serta menjadi pemberdayaan bagi mereka yang subordinat. Namun, bukan berarti bahwa budaya pop selamanya memberdayakan dan menetang.
LEBIH JAUH PERIHAL BUKU INI
Menghadirkan sederetan teori dan metode yang telah digunakan dalam cultural studies untuk mengkaji budaya pop kontemporer.
2
TELEVISI
Televisi adalah suatu bentuk budaya pop akhir abad kedua puluh. Televisi merupakan aktivitas paling populer di dunia.
ENCODING DAN DECODING WACANA TELEVISUAL
Wacana televisual memiliki tiga momen yang berbeda. Pertama-tama, para professional media memakai wacana televisual dengan khusus mereka tentang misalnya saja, sebuah peristiwa sosial yang ‘mentah’. Kedua, segera sesudah makna dan pesan berada pada wacana yang bermakna, yaitu sesudah makna dan pesan itu mengambil bentuk wacana televisual, aturan formal bahasa dan wacana ‘bebas dikendalikan’. Pada momen ketiga, momen decoding yang dilakukan khalayak, serangkaian cara lain dalam melihat dunia ‘bisa dengan bebas dilakukan’. Seorang khalayak tidak dihadapkan dengan peristiwa sosial ‘mentah’ melainkan dengan terjemahan diskursif dari suatu peristiwa. Dengan kata lain, makna dan pesan tidak sekedar ditransmisikan, keduanya senatiasa diproduksi : pertama oleh sang pelaku encoding dari bahan ‘mentah’ kehidupan sehari-hari; kedua, oleh khalayak dalam kaitannya dengan lokasinya pada wacana-wacana lainnya.
Klarifikasi pemahaman tentang encoding/decoding menurut Hall :
1. Produksi pesan penuh makna dalam wacana TV senatiasa merupakan ‘pekerjaan’ problematis.
2. Pesan dalam komunikasi sosial selalu bersifat kompleks dalam hal struktur dan bentuk.
3. Aktivitas ‘pemetik makna’ dari pesan juga merupakan sebuah praktik yang problematis, betapapun transparan dan ‘natural’ tampaknya aktivitas itu.
TELEVISI DAN ‘IDEOLOGI BUDAYA MASSA’
Serial TV Dallas merupakan ‘opera sabun jam tayang utama’ (prime time) Amerika yang sukses dan ditonton lebih dari Sembilan puluh negara di dunia pada awal 1980-an. Budaya pop merupakan produk dari produksi komoditas kapitalis dan karenanya merupakan subjek bagi hukum ekonomi pasar kapitalis.
Dalam serial TV tersebut, ada penggemar, ada pula yang membenci. Para pembenci Dallas menyitir ideology dengan sangat jelas. Mereka mempergunakannya dalam dua cara : menempatkan program secara negative sebagai contoh ‘budaya massa’, dan sebagai salah satu cara mempertanggungjawabkan serta mendukung ketidaksukaan mereka terhadap program tersebut.
Ideologi populisme adalah ideology tentang kepercayaan bahwa selera seseorang punya nilai yang setara dengan orang lain. Ideologi populisme menegaskan bahwa karena selera adala sebuah kategori otonom, yang terbuka secara terus-menerus bagi infleksi individu, sungguh tidak bermakna jika melontarkan penilaian estetik berkenaan dengan preferensi orang lain.
Cultural studies, terutama cultural studies feminis, mesti memutuskan hubungan dengan ideology budaya massa. Cultural studies feminis harus berjuang keras melawan ‘paternalisme budaya massa … [yang di situ] kaum perempuan … dilihat sebagai korban pasif dari pesan-pesan opera sabun yng memperdayakan … kesenangan [mereka] … sama sekali dikesampingkan’. Kesenangan tidak seharusnya dikutuk sebagai kendala bagi tujuan feminis membebaskan kaum perempuan.
DUA EKONOMI TELEVISI
John Fiske (1987) berpendapat bahwa komoditas budaya – termasuk televise – yang dari situ budaya massa tersebar dalam dua ekonomi sekaligus : ekonomi finansial dan ekonomi kultural. Ekonomi finansial terutama menaruh perhatian pada nilai tukar, sedangkan ekonomi kultural terutama berfokus pada nilai guna – ‘makna, kesenangan, dan identitas sosial’.
Fiske menegaskan ‘bahwa kekuatan khalayak sebagai produsen dalam ekonomi kultural amatlah mementukan’. Kekuatan khalayak ‘berasal dari fakta bahwa makna tidak beredar dalam ekonomi kultural dengan cara yang sama dimana kekayaan beredar dalam ekonomi finansial’.
Dua ekonomi Fiske beroperasi demi kepentingan pihak petarung yang saling berlawanan : ekonomi finansial cenderung mendukung kekuatan kerja sama dan homogenisasi, sementara ekonomi kultural cenderung mendukung kekuatan perlawanan dan perbedaan.
Pendekatan Fiske terhadap budaya pop – termasuk televisi – adalah pendekatan yang mengakui budaya pop sebagai ‘sebuah medan pertarungan’ dan walaupun mengakui ‘kekuasaan terhadap kekuatan dominasi’, justru memilih mengarahkan perhatiannya pada ‘taktik-taktik populer yang dengan itu kekuatan-kekuatan ini diatasi, dihindarkan, atau dilawan’. Dengan kata lain, pendekatan ini lebih memilih untuk meneliti vitalitas dan kreativitas populer yang menggabungkan kebutuhan tetap tersebut.
3
F I K S I
Dalam Culture and Environment, FR Leavis dan Denys Thompson menyalahkan fiksi populer karena menawarkan bentuk-bentukadiktif berupa ‘kompensasi’ dan ‘distraksi’. Bentuk kompensasi ini merupakan kebalikan dari reaksi itu sendiri, karena ia cenderung pada penolakan untuk menghadapi realitas. Ada tiga pendekatan penting terhadap studi fiksi populer dalam cultural studies : pembacaan simptomatik, bentuk-bentuk pembacaan, dan pembacaan roman.
IDEOLOGI DAN PEMBACAAN SIMPTOMATIK
Menurut Louis Althusser (1969), wacana ideologis adalah sebuah sistem yang tertutup. Wacana ideologis hanya bisa menyelesaikan sendiri problem-problem itu sejauh ia bisa menjawab. Supaya tetap aman di dalam batas-batas yang ditentukannya sendiri, wacana ideologis harus tetap diam terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengancamnya untuk keluar dari batas-batas ini. Althusser mencirikan metode pembacaan Karl Max atas karya Adam Smith sebagai ‘simptomatik’ karena
Pembacaan itu menguak peristiwa yang tak pernah terkuak di dalam teks yang dibacanya dan dengan cara yang sama menghubungkannya pada suatu teks yang berbeda, yang hadir sebagai ketidakhadiran yang diperlukan pertama kali. Seperti pembacaan pertamanya, pembacaan kedua Marx mengandaikan eksistensi dua teks, dan pengukuran yang pertama terhadap yang kedua. Namun apa yang membedakan pembacaan ini dari pembacaan klasik adalah fakta bahwa pada pembacaan yang baru teks kedua diartikulasikan dengan perubahan dalam teks pertama.
Melalui pembacaan simptomatik atas Smith, Marx mampu mengukur ‘problematika yang awalnya tak tampak yang terkandung dalam paradoks sebuah jawaban yang tidak sesuai dengan setiap pertanyaan yang diajukan’. Oleh karena itu, membaca sebuah teks simptomatis berarti melakukan pembacaan ganda : membaca teks manifes terlebih dahulu, kemudian menghasilkan dan membaca teks yang laten, yaitu problematik.
BENTUK-BENTUK PEMBACAAN
Teks-teks fiksi populer tak lebih dari sekedar wadah-wadah ideologi, sebuah alat yang menyenangkan senatiasa berhasil mentransmisikan ideology dominandari industry-industri budaya kepada massa yang dikorbankan dan termanipulasi.
Bennet dan Woollacott menolak padangan bahwa teks menentukan pembacanya sendiri maupun pandangan yang jelas bertentangan bahwa pembacalah yang menghasilkan makna teks. Mereka menyalahkan kedua pendekatan tentang bekerja dengan ‘pandangan metafisik terhadap teks’, karena klaim pertama bahwa makna teks mendahului kondisi pembacanya, dan yang kedua meskipun menerima kemungkinan pembacaan yang bervariasi, sebaliknya bersikeras bahwa pendekatan ini merupakan pembacaan yang bervariasi terhadap teks yang sama. Bennet dan Woollacott berpendapat bahwa teks maupun pembaca ‘senatiasa telah diaktifkan secara kultural’ sampai pada tingkat di mana perbedaan antara subjek dan objek terus menerus kabur.
Dengan kata lain, teks dan konteks bukanlah momen-momen terpisah yang tersediabagi analisis pada waktu yang berbeda. Teks dan konteks merupakan bagian dari proses yang sama – keduanya tak bisa dipisahkan : seseorang tak bisa memiliki teks tanpa sebuah konteks, atau konteks tanpa teks.
MEMBACA FIKSI ROMANTIS
Narasi feminin cenderung mengambil salah satu dari tiga kemungkinan posisi : penghinaan; kebencian; atau olok-olok yang sembrono. Bangkitnya feminisme hampir paralel dengan pesatmya pertumbuhan popularitas fiksi romantis.
Menurut perempuan Smithton, roman ideal adalah sesuatu di mana perempuan cerdasdan independen dengan cita rasa humor yang bagus diluapi, sesudah banyak rasa curiga dan ketidakpercayaan, dan sejumlah kekejaman dan kekerasan, oleh cinta terhadap pria yang cerdas, lembut, pandai bercanda, yang selama hubungan mereka berubah dari seseorang yang pra-terpelajar dan emosional menjadi seseorang yang bisa peduli padanya dan memeliharanya dengan cara yang secara tradisional kita akan mengharap hanya dari seorang perempuan kepada laki-laki. Pemecahan terhadap roman yang ideal memberikan kepuasan segitiga yang sempurna: ‘perlindungan kebapakan, kepedulian ibu, dan cinta dewasa yang bergairah’.
4
F I L M
Studi film telah membangkitkan sebentangan teori dan metode. Film dipelajari dari segi potensinya sebagai ‘seni’, sejarahnya yang dituturkan sebagai momen dalam ‘tradisi yang hebat’, film-film, bintang, dan sutradara yang paling berarti; film dianalisis berdasarkanperubahan teknologi produksi film; film dikutuk sebagai industri budaya; dan film didiskusikan sebagai situs penting bagi produksi subjektivitas individu dan identitas nasional.
STRUKTURALISME DAN FILM POP
Pada 1970-an, ada pembagian yang jelas dalam cultural studies antara studi ‘teks’ dan studi ‘budaya yang diekspresikan dalam kehidupan seseorang’. Jika objek studinya adalah teks, metode analisisnya adalah strukturalisme. Strukturalisme merupakan metode teoretis yang berasal dari karya ahli bahasa Swiss, Ferdinand de Saussure (1974). Saussure membagi bahasa dalam dua komponen, yang bersama-sama menghasilkan yang ketiga. Saussure menyebut yang pertama ‘penanda’ dan yang kedua ‘penanda’. Bersama-sama keduanya membentuk ‘tanda’. Saussure juga berpendapat bahwa makna bukanlah hasil dari kesesuaian esensial penanda dan petanda, melainkan hasil dari perbedaan hubungan.
Selanjutnya, menurut Saussure, makna dihasilkan melalui proses kombinasi dan seleksi. Fungsi bahasa adalah mengorganisir dan mengonstruksi akses kita terhadap realitas, ketimbang merefleksikan realitas yang telah ada. Oleh karena itu, bahasa yang berbeda akan mengorganisir dan mengonstruksi dunia secara berbeda. Saussure membuat pembedaan lain yang telah terbukti sangat mendasar bagi perkembangan strukturalisme, pembagian bahasa menjadi ‘langue’ dan ‘parole’. Langue mengacu pada sistem bahasa, aturan-aturan dan konvensi-konvensi yang mengaturnya. Ini adalah bahasa sebagai institusi sosial. Parole mengacu pada pengucapan individu, penggunaan bahasa oleh individu.
Strukturalisme sebagai sebuah moda analisis sosial, mengambil dua ide dasar dari karya Saussure. Pertama, perhatian pada relasi pokok antara teks dan praktik kultural – ‘tata bahasa’ yang memungkinkan makna. Kedua, pandangan bahwa makna senantiasamerupakan hasil dari aksi resiprokal dan hubungan antara seleksi dan kombinasi yang dimungkinkan melalui struktur pokok. Dengan kata lain, teks dan praktik kultural dipelajari sebagai analogi terhadap bahasa.
POST STRUKTURALISME DAN FILM POP
Para poststrukturalis menolak gagasan ihwal struktur pokok yang pada akhirnya menentukan makna teks atau praktik budaya. Bagi para postrukturalis, makna senatiasa dalam proses, berhenti sejenak dalam aliran kemungkinan yang tiada henti.
Mulvey mengemukakan bahwa kesenangan terhadap sinema pop harus dihancurkan guna membebaskan perempuan dari eksploitasi dan penindasan karena dijadikan bahan mentah bagi tatapan lelaki. Pengaruh Mulvey sangat banyak. Namun beberapa feminis dan orang lain yang menggeluti dunia film dan cultural studies mulai meragukan ‘validitas universal’ – Nya, yang mempertanyakan apakah ‘tatapan senatiasa bersifat kali-laki’, atau apalah tatapan mata itu “semata-mata bersifat dominan” itu diantara sederetan cara melihat yang berbeda, termasuk tatapan perempuan.
CULTURAL STUDIES DAN FILM POP
Cristine Gledhil mencatat adanya ‘pembaruan muthakir minat feminis dalam budaya pop mainstream’. Gledhil menganjurkan sebuah pemahaman mengenai hubungan antara penonton dan teks film sebagai salah satu negosiasi. Negosiasi ini bisa dianalisis pada tiga level berbeda : khalayak, teks, institusi. Penerimaan ‘merupakan momen yang paling radikal, sebab yang paling bervariasi dan tidak dapat diprediksi’. Situasi menonton atau membaca mempengaruhi makna dan kesenangan akan sebuah karya dengan mengajukan serangkaian determinasi ke dalam pertukaran kultural.
5
SURAT KABAR DAN MAJALAH
PERS POPULER
Untuk memahami pers populer sebagai budaya pop, kita harus belajar dari kritikus Norwegia Jostein Gripsrud (1992), ’melampaui moralisme tidak berguna yang kerap kali hadir dalam kritik-kritik terhadap pers populer’.
Tujuan rersmi jurnalisme adalah menyajikan informasi perihal dunia dengan dan dengan demikian merupakan sebuah komitmen terhadap moda analitis. Kendati demikian, pada praktiknya, moda penuturan ceritalah yang paling sering dimainkan.
Bagi Colin Sparks (1992), perbedaan penting antara pers populer dan apa yang disebut sebagai pers ‘berkualitas’ adalah pengerahan (oleh pers populer) ‘yang personal’ sebagai kerangka kerja yang bersifat menjelaskan.
Budaya pop itu secara potensial dan kerap secara aktual, progresif (meski bukan radikal). Perbedaan antara progresif dan radikal adalah : ‘teks populer boleh jadi bersifal progresif lantaran teks-teks itu bisa mendorong produksi makna yang bekerja untuk mengubah atau mendestabilisasi tatanan sosial, namun teks-teks tersebut tidak pernah bisa radikal dalam pengertian bahwa teks-teks itu tidak pernah bisa menentang atau menggulingkan tatanan tersebut. Pers populer di satu sisi, dan pers pemerintah di sisi lain, dari pers alternatif. Pers populer dipandang paling rendah dari pers dua pers lainnya. Pers populer beroperasi pada garis batas antara yang public dan yang privat : ‘gayanya yang sensasional, terkadang skeptic, tidak jarang bersungguh-sungguh secara moralistis; ungkapannya populis; kelonggaran bentuknya menampik perberdaan stilistik antara fiksi dan documenter, antara berita dan hiburan’. Bagi pers, populer atau yang lainnya, untuk menjadi budaya pop ia harus diterima oleh ‘rakyat’; ia harus memprovokasi percakapan dan memasuki sirkulasi dan resirkulasi oral.
Majalah perempuan menarik pembacanya dengan memaknai kombinasi antara hiburan dan sarana yang berguna. Daya tarik ini ditata melalui serangkaian fiksi. Apa yang sungguh-sungguh dijual dalam fiksi-fiksi majalah perempuan merupakan femininitas yang sukses dan karenanya menyenangkan. Majalah perempuan juga mengonstruksi ‘kolektivitas fiksional’ perempuan.
MEMBACA BUDAYA VISUAL
Karya awal Barthes mengenai budaya pop menaruh perhatian pada proses ‘pemaknaan’, suatu cara yang dengan itu makna-makna dihasilkan dan disirkulasikan. Pada level pemaknaan sekunder atau konotasilah apa yang disebut ‘mitos’ itu dihasilkan dan tersedia bagi konsumsi. Melalui mitos, ideologi yang dipahami sebagai sekumpulan gagasan dan praktik yang mempertahankan san secara aktif mempromosikan perlbagai nilai dan kepentingan kelompok dominan dalam masyarakat. Ada tiga keungkinan posisi pembacaan yang dari ketiganya citra bisa dibaca. Yang pertama semata-mata melihat tentara kulit hitam yang memberi hormat pada bendera sebagai ‘contoh’ imperialisme Perancis, sebuah simbol bagi imperialisme. Yang kedua melihat citra sebagai ‘alibi’ imperialisme Perancis. Posisi pembacaan terakhir adalah posisi pembacaan ‘pembaca mitos’.
6
MUSIK POP
Musik pop ada dimana-mana. Ia telah kian menjadi bagian yang tidak terelakkan dalam kehidupan kita. Saat ini, nilai penting musik pop, yang tentu saja bersifat kultural dan ekonomi, telah membawanya menjadi fokus sentral dalam cultural studies.
EKONOMI POLITIK MUSIK POP
Menurut Simon Frith (1983), karya Theodor Adorno, anggota terkemukan Mazhab Frankurt, mempresentasikan ‘analisis paling sistematis dan paling membakar terhadap budaya massa serta paling menatang siapa pun yang mengklaim bahkan sejumput nilai atas produk industri music yang diproduksi dalam jumlah besar’. Pada 1941, Adorno mempublikasikan sebuah esai yang sangat berpengaruh ‘On Popular Music’. Esai itu membuat tiga pernyataan spesifik mengenai music pop. Pertama, ia menyatakan bahwa music pop itu ‘distandarisasikan’. Pernyataan kedua Adorno adalah bahwa musik pop mendorong pendengaran pasif. Yang ketiga adalah klaim bahwa musik pop beroperasi seperti ‘semen sosial’.
Ekonomi politik budaya kebanyakan punya cara yang sama dengan pendekatan Adorno. Pendekatan ekonomi politik budaya memantapkan tatapannya hampir semata-mata pada kekuatan musik industri. Tidak disangsikan lagi bahwa industri musik punya kekuatan ekonomi dan budaya yang sangat besar. Penting kiranya membedakan antara kekuatan budaya industri dan kekuatan pengaruhnya. Terlalu sering keduanya dicampuradukkan, padahal keduanya tidak selamanya sama.
KAUM MUDA DAN MUSIK POP
Kajian cultural studies berkenaan dengan budaya musik pop lebih tepat dimulai dengan karya Stuart Hall dan Paddy Whannel (1964). Sebagaimana mereka tegaskan, ‘potret anak muda sebagai orang lugu yang dieksploitasi’ oleh industry musik pop ‘terlalu disederhanakan’.
Musik pop mempertontonkan ‘realisme emosional’; lelaki dan perempuan muda ‘mengidentifikasi diri mereka sendiri dengan representasi kolektif ini dan … menggunakannya sebagai fiksi-fiksi penuntun. Fiksi simbolik tersebut adalah cerita rakyat yang dengan cara itu anak usia belasan, sebagian, membentuk dan menyusun pandangan dunianya’.
SUBKULTUR, ETNOGRAFI, DAN HOMOLOGI STRUKTURAL
Kegunaan subkultural musik adalah konsumsi musik dalam betuknya yang paling aktif. Konsumis musik merupakan salah satu bagi sebuah subkultur untuk memalsukan identitasnya dan memproduksi dirinya sendiri secara kultural dengan menandai pembedaan dan perbedaannya dari anggota masyarakat lainnya. Kegunaan subkultur musik pertama kalinya dicatat oleh sosiolog Amerika Davis Riesman (1990). Menulis pada 1950, ia menaruh perhatian pada bagaimana khalayak musik pop bisa dibagi dalam dua kelompok, ‘kelompok mayoritas, yang menerima gambaran dewasa tentang anak muda secara agak tidak kritis, dan kelompok minoritas yang disitu beberapa tema pemberontakan sosial terangkum. Jadi mengonsumsi musik tertentu menjadi sebuah cara mengada (way of being) di dunia. Konsumsi musik digunakan sebagai tanda yang dengannya kaum muda menilai dan dinilai oleh orang lain.
Dalam Profane Culture (1978). Paul Willis berpendapat bahwa ‘etnografi terbaik melakuakn sesuatu yang tidak dilakukan oleh teori dan komentar : etnografi menghadirkan pengalaman manusia tanpa meremehkannya, dan tanpa menjadikannya sebagai refleks pasif dari struktur sosial dan kondisi sosial’.
KATA-KATA DAN MUSIK : MEMBUAT KATA-KATA SEDERHANA JADI ENAK DIDENGAR
Kata-kata adalah bunyi yang bisa kita rasakan lebih dahulu sebelum menjadi pernyataan-pernyataan untuk dipahami dahulu sebelum menjadi pernyataan-pernyataan untuk dipahami. Lirik ditulis untuk dimainkan. Lirik hanya akn benar-benar hidup dalam penampilan seorang penyanyi. Bunyi yang timbul disekitar kata-kata merupakan tanda emosi dan kesungguhan yang nyata.
Kritik terhadap dugaan kedangkalan lirik-lirik musik pop tidak dimaksudkan sebagai sajak. Musik pop meminjam bahasa sehari-hari dan mementaskannya dalam sebuah permainan suara dan peforma yang efektif.
POLITIK DAN MUSIK POP2
Politik memasuki momen yang berbeda dalam menciptakan musik pop : produksi, distribusi, peforma, konsumsi, dll. Pada level ‘akal sehat’, pop politik benar-benar pop yakni bersifat politik – musik pop yang memuat komentar politik secara terbuka tentang dunia. Politik itu berkenaan besar dengan kekuasaan, dan musik pop bisa punya kekuatan besar. Musik pop bisa bersifat politis jika para musisi berkata demikian. Komunitas-komunitas yang punya selera tertentu bisa menjadi konstituensi politik. Industry musik punya definisi musik pop politiknya sendiri : pop politik sebagai kategori penjualan. Beberapa musik pop dipasarkan karena bersifat polotik. Definisi lain mengenai musik pop politik adalah musik pop yang diorganisasi secara politik. Menyebut musik pop bersifat politik berarti membawanya memainkan keragaman maknanya. Musik pop bisa bersifat politis secara simultan dengan banyak cara yang berbeda.
7
KONSUMSI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Konsumsi muncul sebagai sebuah perhatian budaya pada akhir 1950-an dan awal 1960-an dalam perdebatan mengenai perkembangan ‘masyarakat konsumen’. Baru-baru ini, konsumsi bisa ditemukan dalam pelbagai studi mengenai budaya penggemar dan dalam pelbagai studi tentang belanja sebagai bentuk budaya pop.
TEORI-TEORI KONSUMSI
Analisis budaya perihal konsumsi bermula dari perhatian politik marxisme. Herbert Marcuse mengembangkan deretan argumen untuk menunjukkan bahwa ideology konsumerisme mendorong kebutuhan palsu dan bahwa kebutuhan ini bekerja sebagai satu bentuk kontrol sosial. Psikoanalisis postkulturalis Jaques Lacan juga menawarkan sebuah model pemikiran kritis mengenai konsumsi. ‘Ideologi konsumerisme’ bekerja dengan cara seperti ‘ideologi roman’. Ideologi roman adalah sebuah naarsi yang terbangun diseputar satu pencarian : ‘cinta’ adalah solusi bagi semua problem; ‘cinta’ membuat kita lengkap; ‘cinta’ membuat kita penuh; ‘cinta’ membuat kita utuh. ‘Ideologi konsumerisme’ bisa dilihat sebagai salah satu strategi pengalihan; salah satu contoh mengenai pencarian yang tiada akhir, pergerakan hasrat metonimik yang taka da habisnya.
Pierre Bourdieu (1984) menggeser argument itu dari apa yang dilakukan konsumsi terhadap kita menjadi bagaimana kita menggunakan konsumsi untuk tujuan pembedaan sosial. Menggunakan konsumsi untuk pembedaan dan pembedaan bukanlah hal yang baru.
KONSUMSI SUBKULTURAL
Subkultur-subkultur kaum muda berkomunikasi melalui tindakan konsumsi. Seperti ditegaskan Hebdige, subkultur-subkultur kaum muda ‘menaruh perhatian pertama dan terutama pada konsumsi’ (Hebdige 1979: 94-5). Konsumsi subkultural adalah konsumsi yang pada tahapnya yang paling diskriminatif. Melalui suatu ‘proses perakitan’, subkultur-subkultur mengambil pelbagai komoditas yang secara komersial tersedia untuk tujuan dan makna subkultur itu sendiri.
Analisis kultural selalu cenderung merayakan yang luar biasa sebagai bertentangan dengan yang biasa. Subkultur-subkultur menghubungkan kaum muda dengan perlawanan, yang secara aktif menolak menyesuaikan diri pada selera komersial pasif mayoritas kaum muda.
BUDAYA PENGGEMAR
Penggemar adalah bagian paling tampak dari khalayak teks dan praktik budaya pop. Kelompok penggemar berada di bawah tatapan kritis cultural studies. Dulunya, penggemar diperlakuakn dengan dua cara : ditertawakan atau di dipatologikan. Penggemar selalu dicirikan sebagai suatu kefanatikan yang potensial. Penggemar dipahami sebagai korban-korban pasif dan patologis media massa. Dengan kata lain, kelompok penggemar merupakan suatu symptom yang tampak dari kemungkinan runtuhnya budaya, moral, dan sosial yang tak terelakkan lagi mengikuti transisi dari masyarakat pedesaandan agricultural menuju masyarakat industrial dan urban. Kelompok penggemar adalah apa yang ‘orang lain’ lakukan; ‘kita’ selalu mengejar kepentingan-kepentingan, memamerkan selera dan preferensi.
Menurut Jenkins, ada tiga ciri utama yang menandai moda pemberian (makna) budaya penggemar dalam teks-teks media : ‘cara penggemar menarik teks mendekati ranah pengalaman hidup mereka; peran yang dimainkan melalui pembacaan kembali dalam budaya penggemar; dan proses yang dengannya informasi program dimasukkan ke dalam interaksi sosial yang terus-menerus’. Komunitas-komunitas penggemar bukan hanya kumpulan pembaca yang antusias. Budaya penggemar juga berkenaan dengan produksi budaya.
BERBELANJA SEBAGAI BUDAYA POP
Berbelanja adalah suatu aktivitas yang kompleks. Konsumsi selalu lebih dari sekedar aktivitas ekonomi – mengonsumsi produk atau menggunakan komoditas untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan material. Konsumsi juga berhubungan dengan mimpi dan hasrat, identitas, dan komunikasi. Pendek kata, berbelanja telah menjadi budaya pop.
sebenarnya apa maksud dan tujuan dari lahirnya BUDAYA POP di Indonesia sendiri?
BalasHapusmohon pencerahannya ya?
terimakasih
Dear Jeram Liar...
HapusWah saking lamanya postingan ini, sampe lupa kalo pernah nulis ini, hehehhehe :D
Menurut saya pribadi, maksud dan tujuan dari lahirnya budaya pop di indonesia, bisa dilihat dari dua point of view. Pertama, dari point of view pihak yang berkuasa (kaum kapitalis, ato yg punya modal), mereka "menciptakan" budaya pop, untuk mencari keuntungan. See? Misalnya, ketika ada film yang lagi nge-trend, itu pasti penggemarnya banyak kan? kalo penggemarnya banyak, tentu aja konsumennya banyak.. kalo konsumennya banyak, otomatis, keuntungannya juga banyak dong... Iya ga sih? :D
Point of view ke dua, dari para penikmat budaya pop, budaya pop itu bisa dikatakan sebagai "pelarian" dari kehidupan masyarakat yang "menjenuhkan". Setekah kerja seharian, misalnya, orang pasti jenuh dan pengen cari hiburan. Hiburannya pun, cari yang ga mahal kan pastinya? Nah, hiburan yang ga mahal itu bisa di dapet dari produk2 budaya pop. Contoh: sinetron. Kita semua tau, sinetron itu kan ga selalu realistis, tapiii itu tetep di tonton ama masyarakat. See?
Semoga membantu.
Maaf kalau jawabannya tidak memuaskan.
ok terimakasih pencerahannya :)
Hapussama2 :D
Hapusmaaf kalau jawabannya kurang memuaskan -.-