Rabu, 19 Desember 2012

TEORI BUDAYA - David Kaplan dan Robert A Manners


I
ANTROPOLOGI: METODE DAN POKOK SOAL DALAM PENYUSUNAN TEORI
Antropologi merupakan disiplin ilmu yangmemiliki jangkauan yang luas. Bukan hanya mempelajari budaya saja, tapi juga menjelajahi masalah-masalah yang meliputi kekerabatan dan organisasi sosial, politik, teknologi, ekonomi, agama, bahasam kesenian, dan mitologi. Antropologi juga merupakan satu-satunya ilmu yang membahas dua sifat-hakikat manusia sekaligus, yaitu sisi biologis (antopologi ragawi) dan sisi kultural (antropologi budaya).
Masalah utama dalam antropologi adalah menjelaskan persamaan dan perbedaan budaya, serta pemeliharaan budaya maupun perubahannya dari masa ke masa. Dengan mempelajari mekanisme, struktur serta sarana-sarana diluar diri manusia, kita dapat mengetahui alasan perbedaan keyakinan, nilai, perilaku, dan bentuk sosial antara kelompok satu dengan kelompok lain. Mekanisme, struktur serta sarana kolektif diluar diri manusia ini disebut dengan “budaya” (culture).
Dengan adanya keragaman pengaturan budaya, para antopolog membaginya menjadi dua pandangan : (a) antopolog memandang perbedaan sebagai sesuatu yang ada begitu saja, sebagai fenomen untuk dicatat,  atau sebagai variasi-variasi dalam suatu tema besar bernama relativisme budaya. Menurut pandangan ini, semua bangsa di dunia memiliki banyak sekali masalah yang hamper sama, namun mereka memiliki cara penyelesaian masalah yang berbeda-beda. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa “Manusia itu satu, budayanya beraneka”; (b) keragaman tidak dipandang sebagai fenomen yang untuk dicatat, melainkan dipersoalkan juga alasan penjelasannya.
Relativisme Lawan Perbandingan
Teori dan metodologi yang digunakan dalam antropologi adalah relativistik dan komparatif. Kedua hal ini tentu sangat bertolak belakang. Sebagai tesis ideologis, relativisme mneyatakan bahwa setiap budaya nerupakan konfigurasi unik yang memiliki cita rasa khas dan gaya serta kemampuan tersendiri. Kaum relativis menyatakan bahwa suatu budaya harus diamati sebagai suatu kebukatan tunggal, dan hanya sebagai dirinya sendiri. Sedangkan komparativis menyatakan bahwa suatu institusi, proses, kompleks atau ihwal harus dicopot dari matriks budaya yang lebih besar dengan cara tertentu sehingga dapat dibandingkan dengan suatu institusi, proses, kompleks atau ihwal dalam konteks sosiokultural lain. Namun, baik relativis maupun komparativis sama-sama mengakui bahwa tidak ada dua budaya pun yang persis sama.
Perbandingan dan Tipe Struktural
Untuk memutuskan bias atau tidaknya suatu fenomen diperbandingkan, maka digunakanlah gagasan tipe struktural. Tipe structural adalah suatu klasifikasi fenomen yang dipelajari menurut ciri yang penting dan menentukan, selagi kita mendefinisikan ciri  tersebut. Dalam melakukan perbandingan, terdapat dua jenis kajian : (a) perbandingan skala kecil dalam suatu wilayah geografis; (b) survey lintas budaya skala besar yang mencakup sejumlah budaya yang tidak memiliki hubungan historis. Dua kajian ini satu sama lain tentunya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Maka dari itu, perlu ditetapkannya tipe structural sebagai prasyarat mutlak bagi perbandingan lintas budaya yang maknawi, sehingga tidak ada pertentangan antara penelitian skala kecil dan skala besar, tetapi saling melengkapi.
Masalah Pendefinisian Teori
Pengetahuan teoretik merupakan pengetahuan yang berupaya menjelaskan fenomen empirik. Dengan demikian teori bukan hanya sekedar ikhtisar data yang ringkas karena tidak hanya mengatakan “apa” yang terjadi melainkan juga “mengapa”sesuatu terjadi sebagai yang berlaku dalam kenyataan. Maka, teori memiliki fungsi ganda, yaitu  : (a) menjelaskan fakta yang sudah diketahui; (b) membuka celah pemandangan baru yang dapat mengantar kita menemukan fakta baru pula.
Tujuan pembentukan teori adalah penjelasan, bukan prediksi. Namun dalam kenyataannya kedua hal tersebuat sangat tidak terpisahkan. Penjelasan dalam teori menuntun kita ke arah prediksi. Sementara prediksi yang tepat muncul dari adanya penjelasan-penjelasan teori.
Hubungan antara Teori Etnologi dan Fakta Etnografi
Ada hal yang dikeramatkan dalam antropologi, yaitu perbedaan antara fakta dan teori dalam pembedaan atnografi (pemerian/deskripsi budaya) dan etnologi (pembentukan teori mengenai pemerian itu). Dalam bukunya yang berjudul “Cultural Causality and Law”, Julien Steward menyatakan bahwa pengumpulan fakta bukanlah prosedur ilmiah yang memadai; fakta hanya ada sehubungan dengan teori; dan teori tidaklah dirusak oleh fakta, tetapi digantikan oleh teori-teori baru yang memberikan penjelasan yang lebih baik tentang fakta itu.
Masalah-masalah Khusus dalam Pembentukan Teori Antropologi;
Pandangan-dalam lawan Pandangan-luar Mengenai suatu Budaya
Setiap orang bekerja denan cara dan kerangka konseptualnya sendiri. Konsep-konsep yang digunakan oleh orang-orang yang dipelajari oleh antopologpun berbeda dengan si antropolog itu sendiri. Karena itulah muncul masalah metodologis yang tak tak kunjung usai.dalam penyusunan deskripsi menenani budaya lain, apakah kita akan mendeskripsikannya berdasarkan kategori konseptual warga budaya yang bersangkutan (pendekatan emik) ataukah sebagaimana budaya itu terlihat dari luar (pendekatan etik)?
Suatu pandangan dari dalam mungkin saja dapat menyesatkan. Alasannya adalah kebanyakan orang memiliki lihatan yang sangat terbatas dan seringkali senjang mengenai cara kerja sistem tempatnya hidup, karena secerdas apapun manusia tidak akan menyadari sepenuhnya bagaimana sistem dan struktur mempengaruhi mengungkung perilakunya sehari-hari.
Objektivitas Pelaporan Antropologis
Semua manusia mengalami bias. Objektivitas harus dicari dalam institusi dan tradisi kritik sesuatu disiplin. Dengan saling memberi dan menerima kritik terbuka serta melalui saling pengaruh antara bermacam-macam bias, dapat kit aharap munculnya sesuatu yang mendekati objektivitas. Karena objektivitas hakiki adalah sesuatu disiplin yang diupayakan dan ditingkatkan secara kumulatif dari masa ke masa.
Pembentukan Teori
Apakah antropologi termasuk dalam humaniora, sains, atau “kultur ketiga” yang berada ditengah-tengah kedua kubu tersebut? Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan mengenai dunia empiric dan berupaya menjelaskan dunia berdasarkan kaidah dasar yang berlaku umum, dan melalui pertanyaan dan pengujian bukti secara bertubi-tubi. Maka sejauh ini antropologi benar-benarmemahami pola-pola umum dan regularitas fenomena kebudayaan, dan tak ada alasan untuk menyangkal statusnya sebagai ilmu.
Verstehen. Verstehen adalah pandangan bahwa ilmu sosial bukanlah perumusan sistem penjelasan yang umum, melainkan lebih cenderung pada pengorganisasian dan presentasi data dengan cara tertentu yang menjadikan data itu dapat dipahami melalui suatu proses pemahaman dan empati individual. Empati atau verstehen ini dapat menghasilkan konsep hipotesis yang bermanfaat, namun tidak dengan sendirinya berlaku dalam validasi hipotesis tersebut dihadapan umum. Ilmu bukanlah metode untuk menghasilkan teori. Teori adalah tindak kreatif yang lahir dari pikiran yang menggenggam informasi dan berdisiplin.
Terdapat empat hal penting yang membantu menjelaskan sifat teori antropologi yang relative tak pasti, antara lain :
1.      Historisitas/Kesejarahan
2.      Sistem Terbuka
3.      Isu-isu Sosial
4.      Ideologi



II
ORIENTASI TEORITIK
Empat pendekatan atau orientasi teoritik yang akan dibahas pada bab ini adalah evolusionisme, fungsionalisme, sejarah dan ekologi budaya, karena keempat hal tersebut adalah pemberi ciri utama pada antropologi sejak masa awal pertumbuhannyasebagai suatu studi tersendiri.
Kerangka Historis Umum
Pada abad ke sembilan belas, sebagian besar ilmu-Ilmu sosial didomiasi oleh orientasi evolusioner dan orientasi perkembangan (developmental). Sedang pada abad dua puluh muncul reaksi penolakan humanis menetang cara berfikir evolusioner di bidang sosial yang sedang mengalami terombang-ambing, sebagai alasan tambahan adanya kerja lapangan.
Evolusionisme Abad Kesembilan Belas: Suatu Perspektif Historis
Evolusionis abad kesembilan belas sangatlah etnosentris. Mereka menganggap bahwa Inggris dalam era Victoria (Victorian England) atau ekuivalennya merupakan prestasi tertinggi yang dicapai umat manusia. Kedua, evoluisionis ini telah melakukan spekulasi dari belakang  yang ceroboh; mereka melakukan rekonstruksi logis berdasarkan data yang diragukan. Ketiga, mereka dipersalahkan karena telah mempostulasikan bagian uniliniar perkembangan kebudayaan yang dikaitkan dengan keniscayaan kemajuan (progress). Tegasnya, mereka dikatakan telah menyatakan bahwa semua budaya harus menempuh runtunan tahap-tahap yang sama atau secara kasar sama, dalam perjalanannya menuju puncak-puncak seperti yang dicapai oleh masyarakat Inggris Victoria dalam abad kesembilan belas.
Walau terdapat banyak kekurangan dalam analisis evolusionis abad kesembilan belas, setidaknya mereka meninggalkan tiga asumsi dasar yang telah menjadi bagian integral dari pemikiran dan metodoloogi penelitian antropologi, antara lain : (1) diktum bahwa fenomen kebudayaan harus dikaji dengan cara naturalistik; (2) premis tentang “kesatuan psikis umat manusia”, bahwa perbedaan kultural antara dua kelompok tidaklah disebabkan oleh perbedaan kelengkapan psikobiologis melainkan perbedaan pengalaman sosial-budaya; (3) penggunaan metode komparatif sebagai ganti teknik eksperimen dan laboratoris dalam ilmu ragawi.

Evolusionisme Mutakhir
Childe, White, dan Steward
Seorang arkeolog terpandang asal Inggris, V. Gordon Childe, dalam serangkaian karya arkeologinya-teknisnya dan beberapa telaahnya yang popular Man Makes Himself (1941) dan What Happened in History (1946), menggunakan rekaman arkeologis untuk menunjukkan bahwa kemajuan teknis yang dramatik dalam sejarah manusia telah membawa perubahan revolusioner dalam keseluruhan jalinan kehidupan kultural manusia. Rekaman arkeologis itu menunjukkan bahwa keseluruhan pola perubahan bersifat evolutif dan progesif.
Jika Childe terkadang goyah dalam memegang asumsi-asumsi dan kaidah evolusioner, White dan Steward selalu konsisten mendukung orientasi evolusioner tersebut. Menurut White, tanda-tanda adalah hal atau kejadian yang memikili arti inheren dengan bentuk fisik tanda itu, atau arti itu diidentifikasikan begitu dekatnya dengan bentuk fisik sehingga tampaknya inheren. Di pihak lain, simbol atau lambang adalah benda atau kejadian yang artinya dilekatkan secara sewenang oleh orang yang menggunaknannya secara kolektif. Implikasi dari pembedaan ini adalah bahwa sementara perilaku manusia secara tipikal merupakan tanda, manusia adalah satu-satunya yang mampu melaksanakan perilaku tanda maupun perilaku lambang. Dan bagi White, suatu spesies hanya dapat berbudaya atau tak berbudaya. Perlambangan membuat manusia mampu merawat, memanfaatkan, dan menyajikan pengalamannya dalam suatu wujud tertentu sehingga pengalaman itu menjadi bagian suatu tradisi yang bersifat kumulatif dan progesif. Satu hal lagi yang sangat penting dalam konsepsi White mengenai evolusi budaya adalah, budaya merupakan piranti adaptasi bagi manusia untuk berakomodasi terhadap alam dan mengadaptasikan alam padanya, pada dasarnya manusia-dalam-budaya melaksanakan hal itu dengan mengerahkan energi yang tersedia dalam mempekerjakannya demi kepentingan spesies tersebut.
Secara umum Steward tidak membantah bagan evolusi White. Ia bersikap kritis terhadap para relativis yang menekankan keberadaan setiap budaya, dan praktis mengabaikan kemiripan lintas-budaya. Ia merasa bahwa gelombang anti paham evolusi yang mendominasi disiplin ini dalam masa yang demikian panjang telah merugikan produktivitas ilmu tentang fenomen sosial-budaya. Steward berpandangan bahwa tujuan utama antropologi haruslah pengungkapan regularitas kultural sepanjang perjalanan waktu disertai penjelasannya dalam rumusan sebab akibat.
Perbedaan antara Steawrd dan White adalah pada taraf generalitas yang mnejadi pijakan dalam konseptualisasi evolusi budaya. Kritik utama Steward terhapa White adalah bahwa rumusan-rumusan itu demikian luas dan umum sehingga tidak banyak membantu kita menangkap runtutan perkembangan secara jelas dan rinci. Oleh karena itu Steward juga kritis terhadap rumusan-rumusan teoretis yang kelihatan terlalu abstrak dan jauh dari materi empirik.
Jenis evolusionisme White oleh Steawrd disebut evolusionisme universal, karena berlaku untuk keseluruhan budaya, dan bukan budaya-budaya tertentu. Steward mengontraskan dengan pendekatan uniliar, yaitu semua budaya dikatakan telah melampaui tahap-tahap yang sama atau mirip, yang dialamatkan pada para penulis abad kesembilan belas. Steward juga mengontraskan dengan ancangannya sendiri, yaitu evolusi multiliniar. Evolusi multiliniar adalah metodologi untuk menelaah perbedaan dan kemiripan budaya melalui perbandingan antara runtunan-runtunan perkembangan yang paralel, umumnya di wilayah-wilayah geografis yang terpisah jauh. Landasan metodologi ini ialah asumsi-asumsi dasar tertentu mengenai hakikat-hakikat proses kultural. Dan tugas utama evolusi multiliniar adalah menguraika, menjelaskan kesamaan-kesamaan struktural tersebut.

Beberapa Sumbangan Baru
Marshal Sahlins pernah mengemukakan bahwa pandangan White dan Steward mengenai evolusi budaya bersifat saling melengkapi dan bukannya bertentangan. Dia melihat dua cara dalam mengkonseptualisasikan proses evolusioner. Di satu pihak, evolusi budaya telah menghasilkan taraf pengorganisasian yang meningkat, yakni sebagai sistem-sistem yang memperlihatkan kompleksitas yang lebih besar dan adaptabilitas yang menyeluruh. Sahlins menyebut proses atau aspek ini sebagai ‘evolusi umum’ (general evolution). Sementara itu, ketika muncul tipe-tipe kebudayaan baru, tipe-tipe itu mengalami proses yang tak terelakkan berupa radiasi dan adaptasi terhadap lingkungan totalnya yang khas. Demikianlah maka Sahlins menyebut proses atau aspek ini sebagai ‘evolusi spesifik’ (specific evolution).

Tipe-tipe Struktural. Pada suatu tahap, tipe-tipe ini dapat dipandang semata-mata sebagai sarana klasifikasi yang disusun demi pelaksanaan perbandingan lintas budaya. Akan tetapi bila digunakan dalam konteks penyusunan dan pengujian teori, tipe-tipe tadi tidak hanya berfungsi sebagai piranti klasifikasi.

Fungsionalisme
Fungsionalisme adalah penekanan dominan dalam studi antropologi khususnya penelitian etnografis, selama beberapa dasawarsa silam. Dalam fungsionalisme ada kaidah yang bersifat mendasar bagi suatu antropologi yang berorientasi pada teori, yakni diktum metodologis bahwa kita harus mengeksplorasi ciri sistemik budaya. Artinya, kita harus mengetahui bagaimana keterkaitan antara institusi-institusi atau struktur-struktur suatu masyarakat sehingga membentuk suatu sistem yang bulat. Kemungkinan lain adalah memandang budaya sebagai sehimpun ciri yang berdiri sendiri, khas dan tanpa kaitan, yang muncul di sana-sini karena kebetulan historis.
Fungsionalisme sebagai perspektif teoretik dalam antropologi bertumpu pada analogi dengan organisme. Artinya, ia membawa kita memikirkan sistem sosial-budaya sebagai semacam organisme, yang bagian-bagiannya tidak hanya saling berhubungan, melainkan juga memberikan andil bagi pemeliharaan, stabilitas, dan kelestarian hidup “organisme” itu.

Perubahan Budaya
Keluhan yang lazim dilontarkan mengenai analisis fungsional adalah karena analisis ini mempersoalkan pemeliharaan-diri sistem, ia tidak dapat menjelaskan perubahan struktural. Untuk menjelaskan perubahan struktural, orang harus mempertimbangkan bobot kausal variabel-variabel tertentu. Artinya, haruslah ditentukan unsur, institusi, atau struktur mana yang lebih mendasar, lebih fungsional daripada yang lain-lain.
Suatu institusi atau kegiatan dikatakan fungsional manakala memberikan andil bagi adaptasi atau penyesuaian sistem tertentu, dan disfungsional apabila melemahkan adaptasi. Tambahan, institusi yang sama itu bahkan dapat sekaligus mempunyai konsekuensi fungsional dan disfungsional, meskipun jika ditimbang-timbang, akan ternyata ia lebih disfungsional daripada fungsional atau sebaliknya.

Prasyarat Fungsional
Pada tahun 1950, sekelompok ilmuwan sosial menerbitkan artikel yang memuat model masyarakat manusia. Model itu menggeneralisasikan semua masyarakat manusia dan berisi daftar “prasyarat fungsional”. Daftar prasyarat yang mereka susun meliputi: (a) jaminan adanya hubungan yang memadai dengan lingkungan dan adanya rekruitmen seksual; (b) diferensiasi peran dan pemerian peran; (c) komunikasi; (d) perangkat tujuan yang jelas dan disangga bersama; (e) pengaturan normatif atas sarana-sarana; (f) pengaturan ungkapan afektif; (g) sosialisasi; (h) kontrol efektif atas bentuk-bentuk perilaku mengacau (disruptif).
Minimalnya, syarat analisis fungsional yang memadai adalah dengan adanya: (a) suatu konsepsi tentang sistem; (b) daftar syarat fungsional untuk sistem itu; (c) definisi berbagai sifat atau “status” sistem yang dalam keadaan terpelihara; (4) pernyataan tentang kondisi eksternal sistem itu yang dapat dibayangkan memiliki pengaruh terhadap sifat-sifat tersebut dan dengan demikian dapat dikontrol; dan (5) pengetahuan tertentu tentang mekanisme internal dalam pemeliharaan sifat sistem itu atau dalam mempertanyakannya agar berada dalam batas tertentu.

Sejarah
Sejarah merupakan peristiwa yang terjadi pada masa silam, dan bahwa pengetahuan kesejarahan adalah pengetahuan tentang peristiwa masa silam. Akan tetapi karakterisasi sejarah sebagai “perhatian terhadap masa lampau” itu mungkin tidaklah selugas atau sejelas kedengarannya. Masa lampau dapat berarti kejadian yang berlangsung lima menit yang lewat, lima tahun sebelumnya, atau lima ratus tahun yang silam, dan sebagainya. Di sinilah perspektif fungsional dan perspektif evolusional harus dikawinkan dengan perspektif historis. Sebab hanya dengan menggabungkan fungsionalisme, evolusionisme, dan sejarah itulah kita baru dapat mulai merumuskan teori. Dengan menata data secara demikian, perhatian kita akan tertuju pada tipe-tipe elemen atau kejadian yang membantu kita memahami cara-cara kerja sistem yang konkret dan juga alasan munculnya cara kerja itu.
Jika kita tidak meletakkan kejadian historis dalam suatu kerangka fungsional-evolusioner, sejarah kita tetap berupa narasi atau kronologi. Demikianlah maka eksistensi dan arti fakta historis atau etnografis, seperti halnya semua fakta hanya dapat muncul dalam kaitan dengan teori atau kriteria relevansi yang menghadirkan fakta itu.

Ekologi Budaya
Ekologi budaya adalah yang terakhir diantara pendekatan-pendekatan yang pada hakikatnya bersifat metodologis. Pendekatan alias ancangan, ataupun metodologi, atau orientasi ekologi-budaya, merupakan perhatian pokok para antropolog yang dikenal sebagai kelompok evolusionis budaya.
Suatu ciri dalam ekologi budaya adalah perhatian mengenai adaptasi pada dua tataran : pertama, sehubungan dengan cara sistem budaya beradaptasi terhadap lingkungan totalnya, dan kedua – sebagai konsekuensi adaptasi sistematik itu – perhatian terhadap cara institusi-institusi dalam sesuatu budaya beradaptasi atau saling menyesuaikan diri.
Demikian, ekologi budaya tidak sekedar membicarakan interaksi bentuk-bentuk kehidupan dalam suatu ekosistem tertentu, melainkan membahas cara manusia (berkat budaya sebagai sarananya) memanipulasi dan membentuk ekosistem itu sendiri.

Konsep Lingkungan
Kata lingkungan umumnya disama-artikan dengan ciri-ciri atau hal-hal menonjol yang menandai habitat alami: cuaca, flora dan fauna, tanah, pola hujan, dan bahkan ada-tidaknya mineral di bawah tanah. Salah satu kaidah dasar ekologi-budaya adalah pembedaan antara lingkungan-sebagaimana-adanya dengan lingkungan efektif, yakni lingkungan sebagimana dikonseptualisasikan, dimanfaatkan dan dimodifikasi oleh manusia.
Lingkungan operasional adalah lingkungan budaya, karena : (1) lingkungan ini semakin merupakan produk campu-tangan dan pembenahan kultural; (2) karena suatu fase penting dalam adaptasi segala masyarakat manusia ialah adaptasinya terhadap sistem-sistem budaya lain yang dengan sesuatu cara mempengaruhi masyarakat tersebut.

Konsep Adaptasi
Adaptasi sering diartika sebagai proses yang menghubungkan sistem budaya dengan lingkungannya. Istilah adaptasi digunakan sebagai label deskriptif yang menyatakan suatu proses yang telah terjadi dari wakru ke waktu, tidak timbul masalah apapun. Akan tetapi begitu orang mencoba menggunakan konsep adaptasi itu sebagai piranti untuk menjelaskan proses kemunculan itu, penjelasannya menjadi bersifat tautologis.



III
TIPE-TIPE TEORI BUDAYA

Sebuah teori diarahkan untuk menjawab pertanyaan mengapa (bagaimana) timbul regularitas alam; dengan demikian teori harus memuat pernyataan tentang mekanisme tertentu serta hubungan antara variabel-variabel yang tercakup dalam fenomen yang diselidiki. Dalam bab ini, kita akan mempelajari tipe-tipe teori budaya, yaitu ideologi, struktur sosial, teknoekonomi, dan kepribadian.

Teknoekonomi
Teknologi umumnya mengacu pada mesin, alat-alat, dan senjata-senjata suatu budaya. Sedangkan antropolog hamper menggunakan istilah teknologi dalam pengertian yang cakupannya lebih luas daripada benda itu sendiri. Teknoekonomi menekankan fakta bahwa alat-alat saja tidaklah menciptakan teknologi. Kata teknoekonomi tidak hanya mengacu pada mesin dan alat yang digunakan budaya tertentu, melainkan juga cara benda-benda itu diorganisasikan dalam penggunaannya, dan bahkan juga pengetahuan ilmiah yang memungkinkan hadirnya benda-benda itu.setiap komponen teknologi (teknoekonomi) itu penting; tetapi dalam keadaan kultural dan historis tertentu, seperangkat faktor (misalnya: alat-alat) mungkin lebih menentukan daripada faktor-faktor lainnya. Penetapan akhir apakah suatu budaya “memutuskan” untuk membiarkan “teknologi” memegang kendali atau “memutuskan” untuk mengendalikan “teknologi” demi perbaikan sosial, adalah produk sejarah dan pengaturan sosioekonomis beserta ideologi yang mengiringinya. Pada kedua kasus itu efektivitas ideologi dibatasi atau ditentukan oleh berbagai jenis kekuasaan yang mampu atau tidak mampu dilaksanakannya.

Ekologi Budaya dan Teknoekonomi: Orientasi dan Teori
Teknoekonomi tidak secara eksklusif memusat pada teknik dan alat yang digunakan oleh suatu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan ekonomisnya. Singkatnya, bagian pertama dari kata bentukan itu (tekno) mengacu pada perlengkapan teknis atau materiil dan pengetahuan yang ada dalam (dan dapat dimanfaatkan oleh) masyarakat. Sedangkan kata kedua (ekonomi) menekankan pengaturan yang dilakukan oleh suatu masyarakat dalam menggunakan perlengkapan teknis dan pengetahuannya untuk produksi, distribusi, serta konsumsi barang dan jasa. ”. Teknologi adalah hal-hal matriil yang tidak dapat bekerja secara terpisah dari system sosioekoominya beserta segala sesuatu yang menyangkup pemanfaatan, penambahan sebesar-besarnya, penggalakan, atau penindasan pertumbuhan maupun perluasan suatu bidang.

Determinan Teknoekonomi
Ungkapan “determinan teknologi” dan “determinan teknoekonomi” sering digunakan secara kurang selayaknya untuk menandai serta mengevaluasi sesuatu karya. Implikasinya adalah karya yang disebut demikian mengandung sesuatu yang simplistik, mekanistik, dan kurang imaginatif. Akan tetapi sulit menghindarkan adanya determinisme sosioekonomis dengan derajad tertentu, dalam segala analisis mengenai perubahan kultural. Di antara kesemua faktor yang digunakan antropolog untuk memberikan penjelasan, faktor-faktor teknoekonomi adalah yang paling kelihatan dan paling mudah dipahami. Oleh karenanya, teori-teori teknoekonomis menjadi lebih gampang dikukuh\kan dengan bukti atau disanggah jika dibandingkan dengan teori-teori lainnya.
Boleh dikata, semua antropolog sepakat bahwa factor-faktor teknoekonomi membatasi variasi pengaturan struktural lainnya dalam suatu budaya. Hal terakhir yang harus ditekankan adalah menyusun suatu teori teknoekonomi akan membantu menjelaskan hal-hal penting tertentu, tidak semerta-merta berarti bahwa jenis teori yang sama ini akan memiliki kekuatan penjelasan yang memadai dan tepat manakala diterapkan pada tipe-tipe struktural dan sosial lainnya. Dengan kata lain kita tidak usah mencari satu teori tunggal dan serba mencakup tentang budaya melainkan teori-teori budaya.

Struktur Sosial
Evans-Pritchard mengemukakan bahwa struktur sosial merupakan konfigurasi kelompok-kelompok yang mantap; menurut Talcott Parsons, ia adalah suatu sistem harapan/ekspektasi normatif (normative expectations); Leach mengatakannya sebagai seperangkat norma atau aturan ideal; sedangkan Levi-Strauss berpendapat bahwa struktur sosial adalah model. Teori stuktur sosial dalam kenyataannya mempermasalahkan cara yang bermanfaat dalam membeda-bedakan serta berkonseptualisasi berbagi bagian dari system budaya dan hubungan antar bagian itu.

Peran Struktur Sosial Sebagai Penentu
Konseptualisasi struktur sosial berhubungan dengan tindak sosial, interaksi sosial, dan perilaku peran. Jalan pikiran mengenai struktur sosial ini sewajarnya memusatkan perhatian pada individu atau aktor sosial sebagai pengejawantahan struktur tersebut.

Matra Politik
Bergantung pada cara konseptualisasinya dan penekanannya, institusi politik dapat pula dipandang sebagai variabel struktural yang memiliki dampak penentu atau kausal. Dalam analisis perbandingan tentang hubungan antara kekuasaan politik dan perekonomian dalam masyarakat stateless (khususnya chiefdom, yakni masyarakat primitif yang luas dan bersegmen majemuk serta memiliki pemerintahan pusat) Marshall Sahlins menunjukkan bahwa ketika kedudukan atau jabatan yang mengandung kekuasaan muncul (bukan kekuasaan yang sekedar melekat pada karakteristik pribadi) kedudukan politik itu (atau orang yang menempatinya) mereaksi struktur perekonomian dan mereorganisasikannya menjadi jaringan produksi serta distribusi yang berbeda cukup tajam dengan ciri-ciri perekonomian sebelumnya.
Ideologi
Ideology meliputi nilai, norma, falsafah dan kepercayaan religius, sentimen, kaidah etis, pengetahuan atau wawasan tentang dunia, etos, dan semacamnya. Dalam penggunaan yang lebih modern dan sempit, ideology biasanya mengacu pada sistem gagasan yang dapat digunakan untuk merasionalisasikan, memberikan teguran, memaafkan, menyerang, atau mnejelaskan keyakinan, kepercayaan, tindak atau pengaturan kultural tertentu.
Masalah Metodologis dalam Menetapkan Batas Subsistem Ideologi
Ideologi tidak dapat kita ketahui melalui pengamatan langsung karena sifanya subjektif. Ideologi harus disimpulkan dari sesuatu bentuk perilaku, yakni dari apa kata orang atau dari pengamatan atas orang-orang yang berinteraksi dalam berbagai sistem sosial. Dalam masyarakat literasi dan modern, pengamatan kita terhadap sumber terbuka dan pernyataan verbal yang terhimpun dapat dituunjang dengan semacam analisis muatan terhadap sumber tertulis dan visual.  Akan tetapi melimpahnya sumber tersebut sering sekaligus menyulitkan disamping membantu. Jenis kesulitan lain ialah apakah yang kita akui sebagai gejala ideologis hanyalah unsur-unsur dan proposisi-proposisiyang dianut dan dikatakan oleh sehimpun orang secara penuh sadar? Ataukah kita terima kemungkinan bahwa perilaku suatu masyarakat namun sekaligus begitu mendalam terinternalisasikan sehingga mereka sendiri sampai tak sanggup mengungkapkannya dengan kata-kata.
Masalah Penjelasan Kausal
Melford Spiro membedakan lima “taraf”  penyerapan/pembelajaran ideologi (ideological learning) yang mungkin dapat membantu kita menjelaskan berbagai dampak ideologi terhadap variabel kultural atau subsistem lain: (1) melalui arahan atau petunjuk formal, atau secara informal, aktor lebih mempelajari (atau mengetahui) segi tertentu dari ideologi budayanya; (2) para aktor tidak hanya telah mengetahui pemikiran tertentu melainkan juga memahaminya dengan baik dan dapat menggunakannya secara benar dalam konteks sosial yang tepat; (3) karena memahami pemikiran tertentu maka para aktor juga mempercayainya sebagai hal-hal yang benar dan valid; (4) dalam diri aktor pemikiran itu memiliki peran kognitif yang menonjol sebagai petunjuk dalam menstrukturkan dunia sosial dan alaminya; (5) di samping kedudukannya yang menonjol di bidang kognitif, pemikiran tersebut telah mengalami internalisasi yang sedemikian rupa dalam diri aktor sampai pemikiran itu tidak hanya berfungsi sebagai pegangan melainkan juga pendorong perilaku.
Simpulan yang dapat ditarik dari kesemuanya ini kiranya cukup jelas :  bahkan pun ketika kita “mengamati” suatu konsep atau seperangkat konsep ideologis yang sedang dilaksanakan, kita tidak mengetahui sesuatupun tentang peran kognitif yang menonjol ataupun taraf internalisasi konsep itu.
Logika Hal Irrasional
Dalam antropologi banyak penjelasan yang berupaya menunjukkan apa yang oleh Ely Devons dan Max Gluckman disebut sebagai “logika hal irrasional”. Dengan kata lain, sementara banyak di antara institusi (lembaga, pranata) masyarakat primitif kelihatan ganjil dan irrasional di mata pengamat awam, pekerjaan antropolog adalah menunjukkan bahwa di balik irrasionalitas itu institusi-institusi tersebut sesungguhnya rasional walaupun partisipannya sendiri barangkali tidak menginsyafi rasionalitas itu. Dalam menjelaskan rasionalitas hal yang irrasional itu antropolog sering terbawa pada subsistem ideologi.
Kepribadian: Matra Sosial dan Psikobiologis
Subsistem kepribadian merupakan bidang yang amat luas dan rumit. Demikian beberapa hal pembahasan pokok soal teoritik dan metodologis yang niscaya melibatkan dalam segala upaya untuk memanfaatkan variabel-variabel kepribadian guna menjelaskan fenomena kultural. Pokok soal pertama adalah, apakah variabel kepribadian harus ditinjau sebagai bagian integral dari sistem budaya yang bersangkutan, yang setara dengan variabel-variabel ketiga subsistem lainnya, ataukah ditinjau sebagai sesuatu yang secara analitis bersifat eksternal terhadap sistem budaya itu sehingga tidak mempunyai makna kausal? Dengan kata lain, sementara manusia dan budaya jelas sekali tak terpisahkan, bolehkah kita katakan bahwa kepribadian yang menyebabkan (adanya) budaya? Atau, dapatkah kita anggap (demi keperluan pejelasan) bahwa psike dan kepribadian manusia merupakan konstan-konstan, atau variabel terikat, dan dengan demikian tak relevan dengan pembahasan mengenai stabilitas dan variasi kultural? Pokok soal kedua berkaitan dengan yang pertama; jika variabel-variabel kepribadian dipandang sebagai bagaian integral dari sistem kulturnya, sejauh manakah variabel itu menjalankan pengaruh kausal terhadap bagian lain dari keseluruhan sistem? Kalau kita memandang kepribadian secara demikian, maka pertanyaan-pertanyaan teoretis seperti yang kami kemukakan dalam dalam pembahasan tentang subsistem lain pun harus diberlakukan dalam pembicaraan tentang kepribadian ini.
Aliran Budaya-Kepribadian yang Lama
Sejak masa awalnya sebagai bidang pengetahuan yang sistematis, antropologi telah memasalahkan proses mental. Misalnya,’kesatuan psikis umat manusia’ yang merupakan salah satu aksioma tertua dan fundamental dalam disiplin ini jelas adalah anggapan tentang proses mental yang berlaku bagi segala manusia (panhuman). Demikianlah maka dalam memegang teguh anggapan tersebut antropologi meninggalkan penjelasan rasial, biologis, dan genetis mengenai perubahan budaya. Antropologi beralih ke penjelasan tentang perbedaan itu sebagai fenomena sosio-kultural. Setelah menerima premis bahwa proses mental pada hakikatnya sama untuk seluruh umat manusia, banyak hal di antara para antropolog yang awal-awal melanjutkannya dengan berspekulasi tentang keadaan dan sifat-hakikat proses mental itu.
Aliran Budaya-Kepribadian yang Baru
Kognisi. Tumbuhnya minat pada antropologi kognitif antara lain dirangsang oleh linguistik. Selain itu, jelas bahwa minat itu cukup banyak diakibatkan oleh perhatian yang luas terhadap amtropologi psikologis dan minat untuk menelaah “pikiran” itu sendiri. Tujuan inti antropologi kognitif ialah mengetahui alat konseptual yang digunakan suatu bangsa untuk mengklasifikasikan, menata, dan menafsir semesta sosial serta alaminya. Para kognisianis juga memandang kajian tentang model dan pemahaman oleh warga budaya tertentu sebagai piranti atau metodologi yang akan menghasilkan penelitian etnografis yang betul-betul mencerminkan realitas versi warga budaya yang bersangkutan itu sendiri.
Bahasa dan Kode Kognitif. Anggapan lain yang mendasari banyak dari karya antropologi kognitif adalah bahwa kategori itu terkodekan dalam struktur dan ciri pembeda kebahasaan yang digunakan oleh suatu bangsa. Bahasa adalah instrument sosial, dan meski begitu, pelajaran untuk menggunakan instrument ini tidak semerta-merta membawa kita pada tugas yang mustahil, yaitu dengan menginternalisasikan semua kategori, pembedaan dan anggapanmetafisik. Lagipula, penggunaan bahasa sebagai instrument sosial sering bervariasi menurut konteks sosialnya.

Catatan Penutup
Dalam praktiknya antropologi budaya dalam aliran apapun cenderung mengunakan variable-variable dari dua subsistem atau lebih, dalam menganalisis atau menjelaskan.




IV
ANALISIS FORMAL
Strukturalisme dan etnografi-baru antara lain mencakup ancangan yang disebut etnosemantik, etnosains, dan analisis-komponen. Titik berat ancangan semacam itu adalah pada kode budaya, kaidah konseptual, sistem lambang, dan sebagainya. Yang membuat strukturalisme dan etnografi-baru kelihatan menonjol sebagai perintis adalah bahwa metodologi, peristilahan, dan kerangka konseptual yang digunakannya banyak bersumber tidak hanya pada lingkungan struktural, namun juga pada perkembangan paling mutakhir dari ilmu-ilmu yang disebut high sciences: teknologi komputer, teori komunikasi, sibernetika, game theory, analisis sistem, dan logika simbolik.
Model sebagai Piranti Heuristik
Model ialah sebagai analogi dan metafora. Atribut yang paling penting pada suatu model adalah keketatan logika dan prediksinya. Sifat yang paling bermanfaat pada suatu model adalah kemungkinnan heuristiknya, bukan presisinya. Suatu model dapat berfungsi sebagai piranti untuk menawarkancara agar pengetahuan yang diperoleh dibidang tertentu dapat membantu menerangi bidang pengetahuan lain. Dalam menggunakan model, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu : (1) suatu model selalu merupakan aproksimasi; (2) hubungan antara suatu model dengan fenomen empirikselalu bersifat isomorfis.
Strukturalisme
Segala ilmu (keras, lunak, ragawi, hayati, sosial) mempersoalkan struktur, yakni cara bagian-bagian suatu sistem tertentu saling berkait. Dengan demikian, tujuan kajian struktural ialah menjelaskan pengalaman dan memahami rasionalitas dasar yang menyangga dunia fenomenal.
Etnografi Baru
Ada etnosains, etnosemantik, analisis komponen, dan semacamnya. William Sturtevant memberikan nama kolektif “etnografi-baru” untuk pendekatan-pendekatan formal itu. Sturtevant menekankan ciri kecenderungan baru itu sebagai suatu program metodologis untuk menlaksanakan penelitian lapangan etnografis. Sasaran etnografi baru yang diajukan sebagai dalih ialah membuat pemaparan etnografis mnejadi lebih akurat dan lebih replikabel daripada yang telah dianggap telah berlaku pada masa sebelumnya.
Pendekatan Emik dan Pendekatan Etik Terhadap Fenomena Budaya
Sasaran utama etnografi baru ialah eliminasi atau setidaknya menetrlisasai bias yang berpotensi menimbulkan kesenjangan di pihak etnograf. Sedang kategori kognitif seorang antropolog dirancang untuk kegunaan lain tidak utuk mereproduksi “realitas kutural” melaikan utuk menjadi realitas itu dapat dipahami dalam suatu bingkai perbandingan.



V
BEBERAPA TEMA LAMA DAN ARAH BARU
Antropologi dalam Krisis
Antropologi dapat dikatakan sedang mengalami krisis yang disebabkan oleh lenyapnya dunia primitif. Optimistik adalah terobosan yang mungkin dilakukan.
Pandangan Tradisional
Penekanan pada kerja lapangan dan observasi-partisipasi mulai muncul sebagai piranti utama pengumpulan data antropologis pada peralihan abad ini. Observasi-partisipasi merupakan teknik pengumpulan data yang dapat dipraktikkan sekaligus diidamkan untuk situasi berskala kecil seperti kelompok renggang primitif, suku, atau desa. Akan tetapi sebagai teknik untuk mengkaji kelompok sosial yang lebih luas dan rumit, kelayakannya tidaklah seberapa besar.
Kritik terhadap Pandangan Tradisional
Beberapa dasawarsa terakhir ini, sejumlah antropolog mengemukakan pertanyaan penting mengenai implikasi sikap yang memperlakukan unit tradisional dalam penelitian antropologi sebagai entitas yang relatif otonom dan secara fungsional independen. Beberapa dari mereka mendasarkan kritiknya terutama pada hal-hal yang menyangkut metodologi. Sementara otonomi dan independensi fungsional antarkelompok mungkin merupakan asumsi metodologis yang bermanfaat andaikata ada isolasi budaya yang lebih tinggi tarafnya, mereka mengemukakan bahwa dalam era modern ini isolasi dan otonomi adalah mitos yang dapat menyesatkan. Mereka katakan pula bahwa perlakuan terhadap sesuatu suka atau sebarang kelompok sosial lain seolah kelompok macam itu memang merupakan sistem yang bulat dan mandiri, secara metodologis tidak dapat dipertahankan.
Kecenderungan Masa Depan
Titik Temu dengan Ilmu-ilmu Sosial lain
Kenyataan yang kita hadapi saat ini, adalah “mengecilnya” dunia, susutnya keragaman budaya dan otonomi unit sosia, yang pastinya menyudutkan segala cabang ilmu sosial untuk saling mengandalkan, saling memanfaatkan wawasan, teknik, dan data cabang ilmu lain.
“Relevansi” dan Aplikasi
Suatu pertanyaan atau masalah dapat disebut “relevan” bila menimbulkan jawab yang memberikan pengukuhan, penjelasan, atau bahkan modifikasi yang bermakna terhadap tradisi per-teori-an suatu disiplin. Suatu ilmu sosial yang hanya sedikit atau sama sekali tidak memiliki sesuatu yang bermakna bagi penanganan ihwal sosial yang sezaman, memang sulit disebut ilmu sosial. Di samping itu, tidak ada alasan logis yang mengharuskan suatu disiplin dipilah menjadi dua antara segi “murni” dan segi “terapan”-nya, meskipun dalam kenyataan kedua segi itu memang sering dipisahkan. Idealnya, keduanya terus-menerus saling melengkapi dan saling menyegarkan selaku dua segi kegiatan ilmiah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar