Senin, 27 Mei 2013

Forbidden Line

….
“Kenapa aku?”
“Ya karena aku termasuk orang yang kamu sayang,”
“Oooh…”
“Iya kan? Jujur!”
“Sayang karena kakak udah ku anggep kayak kakakku sendiri,”
“Ada perasaan lain juga kan?”
“Perasaan apa?”
“Perasaan sayang tapi lebih dari sekedar sayangnya adek ke kakaknya.”
“PD amat! Hahahaha….”
“Iya kan? Ayo jujur aja,”
“Nggak sih…. Dari awal pertama kenal juga cuma aku anggep kakak,”
“Oooh,”
Aku hanya tersenyum.
“Semoga itu benar perasaanmu,” katanya dengan nada sinis.
“Kenapa?”
“Gapapa,”

Minggu, 26 Mei 2013

Habitus dan Modal Budaya

Oleh : Putri Karyani, Fikri Al Ghufron, & Dwiky Chandra Anggara

SALAM HABITUS! 

Pierre Felix Bourdeau,seorang filusuf  asal prancis, lahir pada tanggal 1 agustus 1930 di kota kecil bernama Danguin, sebuah desa pertanian di barat Prancis. Di awal tahun 1950an dia mengikuti kuliah di Ecole Normale Superieure, sebuah universitas di paris. Setelah ia lulus dan mendapatkan ijin mengajar dari pemerintah Prancis, ia meneruskan karirnya dengan menjadi guru di Moulins Lycee 1955-1958 . Kemudian ia mengikuti wajib militer untuk Prancis selama perang Aljazair 1958-1962. Selama dalam perang tersebut, Pierre melakukan sebuah penelitian Etnografi terhadap masyarakat Aljazair pada waktu itu yang pada akhirnya ia berhasil menerbitkan penelitiannya menjadi sebuah buku yang berjudul “Sociologie de L’Algerie” atau The Aljazair. Buku itupun lansung sukses tidak hanya di Prancis namun juga di Amerika.

Sabtu, 06 April 2013

Love is Love




Namanya Oliver. Aku pertama kali bertemu dengannya di sebuah toko buku. Saat itu kami tak sengaja mengambil sebuah buku yang sama secara bersamaan. Ya! Dan tangan kami bersentuhan, dan akhirnya kami saling padang. Tatapan bola matanya yang berwarna coklat membuatku terkesima. Jantungku berdetak tak karuan.
Akhirnya ia memberikan buku itu padaku, dan tanpa sadar aku menolaknya dan mengembalikan buku itu padanya. Ia memegang tanganku, kemudian menaruh buku itu dalam genggamanku. Beberapa saat kemudian kami tersadar dan akhirnya saling tertawa satu sama lain. It was an awkward momet ever!
“Oliver,” kata pria tampan itu sambil mengulurkan tangannya.
“….”
Kami berkenalan, kemudian saling bertukar nomor handphone dan pin bb. Sejak saat itu kami semakin akrab dan semakin sering bertemu, entah sekedar ke toko buku bersama, ataupun makan siang bersama.